Jumat, 19 Oktober 2012

KHUTBAH HARI RAYA IDUL FIRTI




السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر ..
الله أكبر .. الله أكبر .. الله أكبر كبيرا .. والحمد لله كثيرا .. وسبحان الله بكرة وأصيلاً .
الله أكبر ماَ أَشْرَقَتْ وُجُوْهُ الصَّائِمِيْنَ بَشَراً .. الله أكبر ماَ تَعاَلَتِ اْلأَصْواَتُ تَكْبِيْراً وَذِكْراً ... الله أكبر ماَ تَوَالَتِ اْلأَعْياَدُ عُمْراً وَدَهْراً .. لك الْمَحاَمِدُ ربَّنا سِراً وَجَهْراً .. لَكَ الْمَحاَمِدُ رَبَّنا دَوْماً وَكَرَّا .. لَكَ الْمَحاَمِدُ ربَّنا شِعْراً وَنَثْراً.. لك الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ كَفَرَ كَثِيْرٌ مِنَ الناَّسِ وَأَسْلَمْناَ، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ ضَلَّ كَثِيْرٌ مِنَ المسلمين وَابْـتَدَعُوْا وَلِلسُّـنَّةِ أَقَمْناَ، لَكَ الْحَمْدَ يَوْمَ أَنْ فَزَعَ النَّاسُ وَأَمَنْـتَنا، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ جاَعَ كَثِيْرٌ مِنَ الناَّسِ وَأَطْعَمْـتَناَ، لَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ بَيْنَ يَدَيْكَ أَقَمْـتَناَ، وَلَكَ الْحَمْدُ يَوْمَ أَنْ لِشَهْرِ الصِّياَمِ كِلَّهِ صاَئِمِيْنَ لَكَ أَشْهَدْتَناَ .. لَكَ الْحَمْدُ أَحَقَّ مَحْمُوْدٍ مَحْبُوْبٍ وَأَعْظَمَ مَرْغُوْبٍ مَطْلُوْبٍ . وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن نبينا وحبيبنا وصفينا محمدَ بْنِ عَبْدِ الله ، صاَحِبَ الْحَوْضِ الْمَوْرُوْد ، وَاللِّواَءِ الْمَعْقُوْد، وَالصِّراَطِ الْمَمْدُوْد، يا ربنا ويا مولانا بلغه صلاتنا وسلامنا في هذه الساعة، يا ربنا لا تحرمنا رؤياه في الجنة، اللهم صل وسلم وبارك وأنعم عليه وعلى آله الأطهار وصحبه الأخيار وأتباعه الأبرار .. أما بعد: فَياَ عِباَدَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِياَيَ نَفْسِي بِتَقْوَى الله، وَاصْبِرُوا وَصاَبِرُواْ وَراَبِطُوْا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.


Hadirin  jama’ah sholat id yang berbahagia….
Di pagi hari yang mulia dan penuh barakah ini, mari bersam-sama kita perbanyak rasa syukur ke hadirat Allah SWT, seraya terus meningkatkan kualitas ketaqwaan: bermujahadah dalam melaksanakan segala perintah-Nya, dan menjahui semua yang dilarangan-Nya. Pada kesempatan ini juga, bersama-sama kita agungkan asma Allah, dengan memperbanyak bertakbir, tahmid, tahlil dan tasbih, sebagi ungkapan rasa syukur dan suka cita; menenggelamkan diri dalam suasana kemenangan, setelah sebulan lamanya kita laksanakan ibadah puasa, sebagai manifestasi ketaqwaan. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang dikaruniai kefitrahan, dan mampu meraih derajat muttaqin pasca-tempaan selama Ramadan. Amin ya Rabbal alamin.
Hadirin Jama’ah Shalat Idul Fitri, Rahimakumullah..
Baru saja kita telah menunaikan shalat Id secara berjamaah. Ini pertanda bahwa hari ini, dan beberapa hari ke depan, suasana Hari Raya Idul Fitri akan kental terasa. Kunjungan bersilaturrahmi antar sanak kerabat, handai taulan, juga kepada para sahabat berlangsung penuh khidmat, penuh suka cita. Saling bermaaf-maafan sebagai inti silaturrahmi berlebaran telah menjadi satu tradisi yang mengalir bagaikan air. Kiranya kita patut membanggakan tradisi mulia ini. Setidaknya, ego diri, kesombongan pribadi untuk mengakui kesalahan kepada sesama kita  bisa tertutupi dengan tradisi ini. Gampangnya, jika di luar suasana Idul Fitri kita masih merasa malu, canggung untuk meminta maaf, maka pada suasan lebaran ini, luapan emosi keangkuhan diri bisa sejenak direda.
Dalam kedinasan, contohnya, atasan tidak lagi canggung mengakui kekhilafannya pada bawahan; para guru tidak perlu sungkan meminta maaf kepada murid-muridnya; mereka yang lebih senior, lebih tua, tidak usah malu bermaaf-maafan dengan mereka yang lebih junior, atau lebih muda. Dalam keuarga juga demikian, orang tua dengan putra-putranya saling meminta maaf. Dalam suasana lebaran, semuanya berkesempatan untuk tidak malu meminta maaf atas kesalahan masing-masing. Alhamdulillah, sekali lagi alhamdulillah kita punya tradisi mulia ini, meski sebenarnya, tradisi sepertii ini tidak terbatas dalam suasana lebaran saja.
Satu lagi, wahai kaum muslimin sekalian, tradisi saling memaafkan, tradisi pengakuan kesalahan kepada sesama ini ternyata sekaligus menjadi pembeda antara Islam dengan agama yang mengharuskan pengakuan kesalahan atau pengakuan dosa hanya kepada orang yang disucikan. Islam tidak demikian, semua manusia sama; semua manusia pernah melakukan dosa; tidak satu pun manusia kecuali baginda Nabi Muhammad al-maksum, yang terlepas dari kekeliruan, juga dosa. Inilah hakekat tradisi Idul Fitri yang sangat mulia.
Allahu Akbar 3x walillahilhamd
Dengan lebih memahami tradisi Idul Fitri seperti di atas, lantas kita bisa melihat benang merah antara tradisi dan hakekat makna Hari Raya Idul Fitri; ada keterikatan antara keduanya. Hari raya Idul Fitri sebagai puncak pelaksanaan ibadah puasa memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa Ramadan.
Secara etimologi (kebahasaan), Ungkapan “Idul Fitri” sendiri, terdiri dari dua suku kata: îd dan Fitri. kata îd terambil dari bahasa Arab yang memilik banyak arti. Bisa berarti: sesuatu yang terjadi berulang-ulang. îd juga berarti kebiasaan, ia terambil dari kata ‘âdah. Selain itu, makna îd juga berarti kembali, dari asal kata ‘awdah. Jika tersambung dengan kata selanjutnya, yakni fitri, makna îd yang terakhir, yaitu “kembali”, menjadi makna yang sangat pas dan relefan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pelaksanan ibadah puasa. Maka, Idul Fitri berarti hari raya Kesucian atau hari raya Kemenangan—yakni kemenangan mendapatkan kembali, mencapai kesucian, fitri. Kefitrahan, atau kesucian diri inilah yang menjadi asal kejadian setiap manusia, tanpa kecuali.
Sebagaimana dimaklumi bersama, ibadah puasa merupakan sarana penyucian diri, tentu saja apabila dijalankan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan serta menyadari tujuan puasa itu sendiri (sense of objective).
Berkaitan dengan asal kejadian manusia, Rasulullah bersabda: “Setiap anak yang lahir adalah dalam kesucian…( كل مولود يولد على الفطرة )” Penegasan yang berkenaan dengan kesucian bayi juga dinyatakan dalam sebuah hadis lain yang mengatakan bahwa seorang bayi apabila meninggal, maka ia dijamin akan masuk surga.
Lebih jelas lagi Al-Qur’an menjelaskan bahwa Manusia diciptakan Allah dengan naluri beragama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar, alias melenceng dari fitrah. Hal itu terjadi karena faktor luar, atau lingkungan. Maka hendaklah segera kembali dari lingkungan yang merusaknya, menuju kefitrahan dari Tuhan yang telah menciptakan. Ditegaskan:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا* فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Ar-rum: 30)
Termasuk dari fitrah yang sekaligus menjadi naluri utama manusia adalah naluri menyembah. Hal ini disebabkan secara alami sejak lahir manusia sudah membawa perjanjian primordial untuk hanya menyembah kepada Tuhan. Naluri ini, jika tidak disalurkan secara benar, akan mengarah pada apa saja, sehingga yang dihadapi manusia bukan persoalan tidak menyembah Tuhan, tetapi terlalu banyak yang disembah. Inilah sebabnya kenapa kredo Islam dimulai dengan nagasi atai nafi: la ilaha (tiada Tuhan), yaitu untuk membebaskan diri dari segala macam kepercayaan, kemudian dilanjutkan: illallâh (kecuali Allah).
Kita tahu, setiap kepercayaan akan memperbudak. Kalau kita percaya kepada cincin yang dapat mendatangkan rizqi, misalnya, secara apriori kita telah kalah dengan cincin tersebut. Dan dengan sendirinya kita jadi lebih rendah dari batu yang ada dalam cincin tadi. Inilah yang disebut syiriq, yakni menempatkan diri tidak sesuai dengan rencana Tuhan sebagai makhluq tertinggi. Dari sini bisa difaham kenapa syirik menjadi dosa yang paling besar.
Selain itu, manusia dengan kesucian asalnya, primordial, terkadang mudah terjerumus dan tergelincir ke dalam dosa sehingga menjadikan dirinya tidak suci lagi. Meminjam istilah sastrawan terkenal Dante, kesucian itu diistilahkan dengan surga atau paradiso, suasana jiwa tanpa penderitaan. Sedangkan dosa, sebagai kondisi jiwa yang tidak membahagiakan, diistilahkan dengan inferno atau neraka. Karena itu bulan Ramadlan yang berarti penyucian diistilahkan dengan purgatorio atau penyucian jiwa. Orang yang menjalankan ibadah puasa sesuai dengan tuntunan, maka dengan sendirinya akan dapat mengembalikan jiwanya kepada kesucian atau paradiso, yakni kebahagiaan karena tanpa dosa.
Hadirin wal Hadirat yang Rahimakumullah…
Kemudia, setelah Kewajiban puasa Ramadan dijalankan dengan baik, Al-Quran lantas menganjurkan setiap orang yang beriman untuk bertakbir atau mengagungkan asmâ’ Allah Swt., Dalam surah al-Baqarah ayat 185 dijelaskan:
يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ"
…Allah menghendaki yang mudah bagimu dan tidak ingin mempersulit kamu. (Ia menghendaki kamu) mencukupkan jumlah bilangan, serta mengagungkan Allah yang telah memberi petunjuk kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Q., 2: 185).
Dengan anjuran bertakbir tersebut, sepertinya seorang muslim yang telah menjalankan ibadah puasa diasumsikan berada dalam kemenangan atau kesucian, sehingga yang ada hanya Tuhan dan yang lain dianggap tidak berarti apa-apa. Allâhu Akbar 3x, Allah Maha Besar.
Allahu Akbar: tidak menilai orang besar karena baju barunya!
Allahu Akbar: tidak melihat orang besar karena hartanya!
Allahu Akbar: tidak menganggap orang besar karena jabatan dan kedudukannya!
Allahu Akbar: tidak menilai segala sesuatu selain Allah, besar!
Allahu Akbar, tidak pernah menganggap diri sendiri, besar! Senyatanya kita rendah di sisi Allah, kita hina di hadapan Allah, karena banyaknya dosa, dosa, dan dosa yang kita perbuat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.......
Itulah makna filosofi kalimat takbir: menyatakan dengan sebanar-benarnya kebesaran Allah, tidak sekedar terucap melalui lisan, tapi diyakini dengan hati yang paling dalam, dan diperaktekkan dalam amalan sehari-hari. Keyakinan semacam ini tidak akan pernah terujud, tanpa sebelumnya meyakini keberadaan Allah; meyakini haqqul yakin bahwa Allah meha mengetahui tentang apa saja yang akan, sedang dan telah kita lakukan. Itulah beberapa pelajaran inti dalam ibadah bulan Ramadan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa kembali pada fitrah manusia, dan terlatih mengendalikan diri setelah kepergian bulan Ramadhan tahun ini; tetap menempati kehormatan sebagai sebaik-baik makhluk dan tidak akan merosot menjadi makhluk yang paling rendah akibat tak kuasa menahan godaan yang selalu mengintai. Akhirnya, minal âidzîn wal fâizîn, selamat Hari Raya Idul Fitri tahun 1432 Hijriyah.

Nilai Filosofi Puasa Ramadhan


Nilai Filosofi Puasa Ramadhan

 

SEMUA yang disyariatkan ajaran Islam ataupun yang dilarangnya  pasti mengandung nilai-nilai (makna) filosofisnya. Barang kali hanya saja kita belum mampu mengatahui dan menghayatinya. Seperti halnya dengani badah-ibadah lainnya, maka ibadah puasa pun setidaknya ada enam nilai filosofis yang dikandungnya:

Pertama, ibadah puasa mengandung nilai pernyataan syukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah diberikan kepada manusia; Kedua, ibadah puasa dapat mengendalikan sifat-sifat hayawaniyah atau bahamiyah, seperti makan, minum dan lainnya yang melekat pada manusia, tidak sebebas orang yang tidak berpuasa;

Ketiga, ibadah puasa adalah sebagai latihan dan imtihan untuk menguji seseorang sampai di mana ketaatan dan ketahanan jiwanya, serta kejujuran dalam menjalani tugasnya sebagai hamba Allah. Orang pasti memilih lapar karena berpuasa ketimbang karena melawan perintah Allah;

Keempat, ibadah Puasa merupakan suatu sistem untuk membiasakan  makan yang teratur, guna menjaga dan memelihara kesehatan. Karena penyebab dari segala penyakit, berawal dari perut (ma’idah) sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Perut itu adalah sarang penyakit, dan pencegahan awal adalah pangkal pengobatan, berikanlah masing-masing tubuh apa yang telah terbiasa.”;

Kelima, ibadah puasa dapat menekan dan mengendalikan nafsu syahwat atau hawa nafsu. Orang yang sedang berpuasa tidak berbicara hal-hal porno dan merangsang, apa lagi melakukan ataupun memikirkannya, karena semua itu membuat rusaknya pahala puasa, dan;

Keenam, dengan beribadah puasa dapat merasakan betapa pahit dan perihnya perut yang keroncongan dan tidak makan berhari-hari. Dengan demikian ia akan mudah tergugah dan menerima kalau diajak untuk bersedekah kepada fakir miskin. Ia akan mudah menaruh kepedulian kepada masalah-masalah social yang ada di sekelilingnya.

Untuk dapat menyikapi dan merasakan hikmah-hikmah tersebut, tentunya dengan menjaga dan memelihara tata cara berpuasa dari hal-hal yang dapat mengurangi dan membatalkan nilai-nilai ibadah. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda: “Berapa banyak orang orang yang melakukan ibadah puasa hanya yang ia peroleh adalah kelaparan dan kehausan.”

Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: Pertama, menjauhkan diri sesuatu yang merusakkan ibadah puasa itu sendiri; Kedua, menghindarkan dari hal-hal yang menghilangkan nilai atau pahala ibadah puasa, seperti mencaci orang, mengupat, mencela, memaki dan lain sebagainya.

Ketiga, mengurangi tidur di siang hari, karena kalau kita tidur untuk tidak merasakan keletihan berpuasa, berarti kita tidak akan  merasakan salah satu dari hikmah puasa itu; Keempat, membatasi diri dari sifat-sifat amarah dan emosinal; Kelima, memelihara pancaindra atau anggota badan, seperti telinga, mata, hidung, lidah dan sebagainya;

Keenam, memperbanyak amaliyah Ramadhan selama bulan Ramadhan ini, antara lain memperbanyak membaca Alquran, bersedekah dan memberi  bantuan lainnya. “Sesungguhnya sadaqah itut menolak dan menjauhkan dari penyakit penyakit dan malapetaka.” (al-Hadis); Ketujuh, menghidupkan malam dengan shalat malam dan shalat terawih;

Kedelapan, melakukan iktikaf pada malam-malam sepuluh Ramadhan yang akhir sebagaimana kerap dilakukan Rasulullah saw sebagaimana disebutkan dalam satu hadisnya: “Apabila mulai sepuluh malam akhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw beribadat terus diwaktu malam, membangunkan keluarganya dan melakukakn iktikaf, dan; Kesembilan, menghidupkan malam Qadar, yaitu berusaha beribadat diwaktu malam mengharapkan memperoleh malam Qadar.

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM PUASA RAMADHAN




 A. Sebagai Latihan Dan Pembiasaan.
 Yang belum atau tidak terbiasa, sungguh berat melaksanakan shaum ramadhan. Karena itulah, kita diajarkan untuk “berlatih” puasa (sunnah) pada bulan-bulan jelang ramadhan. Agar ketika baligh siap berpuasa penuh, anak-anak pun sebaiknya dilatih shaum pada Bulan Suci.
  • Dampak Positif Latihan Puasa Pada Anak-anak.
1. Lebih mengenal kewajibannya, berlatih sabar, kejujuran, serta kecerdasan emosional.
2. Meningkatkan kecerdasan sosial (empati, merasakan penderitaan orang lain dan berbuat untuk orang lain).
3. Meningkatkan kecerdasan spiritual, meningkatkan kesehatan fisik serta meningkatkan kedisiplinan melalui bangun pagi.
4.  Mematuhi aturan yang berlaku dalam beribadah puasa.
Kebanyakan anak harus lebih dulu dikondisikan dan didorong untuk mencintai puasa. Kalau perlu ada reward and punishment. Ini wajar, mengingat mereka berada di usia perkembangan. Tidak ada batasan usia yang jelas kapan anak mampu berpuasa. Terkadang ada yang berusia 5 tahun sudah mampu berpuasa sehari penuh, tapi ada yang berusia lebih besar belum kuat untuk berpuasa.
  • Tahap Persiapan.
 Tanamkanlah kecintaan pada Ramadhan, dengan cara membacakan cerita-cerita Ramadhan dari buku atau pengalaman orang tua di masa kecil. Buat suasana rumah lebih semarak untuk menyambut Ramadhan, semisal dengan hiasan karya sekeluarga. Sekolah islam atau TPA, biasanya juga menyelenggarakan pawai marhaban ramadhan untuk menyemarakkan suasana.
  • Tahap Pelaksanaan.
1. Sahur Seru : Untuk lebih bersemangat bila misalnya kita undang sepupu atau teman dekatnya untuk bermalam di rumah dan sahur bersama. Juga menyediakan makanan istimewa yang disukai anak.
2. Puasa Gembira : Alihkan perhatian anak dari rasa lapar dan haus pada jam-jam “kritis” dengan bermain ringan, tidur, atau bersilaturrahmi kepada teman dan kerabat yang juga berpuasa. Disamping itu lama waktu anak berpuasa dapat dibuat bergradasi, misalnya diawali dengan puasa beberapa jam dan semakin hari semakin meningkat sehingga dapat digenapkan hingga adzan maghrib. Sebenarnya secara lahiriah anak sudah diberikan kekuatan oleh Allah untuk menahan lapar, untuk itu ayah bunda perlu lebih sabar dalam memotivasi dan tidak mudah menyerah mendengar rengekan ananda meskipun tidak boleh juga terlalu memaksa.
3. Berbuka Sehat : Pilihlah makanan yang sehat sesuai dengan anjuran ahli gizi. Saat berbuka pilihlah makanan yang istimewa meskipun tidak harus mahal dan jadikan saat berbuka sesuatu yang istimewa, syahdu dan harmonis di tengah keluarga.
  • Tahapan Penguatan.
Berapapun jumlah harinya anak harus dapat berpuasa, apakah dapat dilakukannya sehari penuh atau tidak anak tetap harus di hargai. Hadiah yang diberikan tidak perlu selalu dalam bentuk materi namun memang sebaiknya yang bermakna dan diharapkan oleh anak. Perlu pula diceritakan betapa ruginya orang yang tidak berpuasa dan betapa berharganya hari kemenangan di idul fitri sebagai hari kemenangan bagi orang yang berpuasa. Ayah bunda hanyalah manusia yang sedang berusaha menjalankan amanah Allah dalam bentuk melatih anak hingga akhirnya menjadi manusia yang dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik. Dengan motif yang lurus dan usaha memperlancar proses perkembangan anak anda dan dilengkapi dengan doa kepada sang pencipta dan penentu segala, maka atas izin-Nya proses yang alamiah ini dapat terlaksana dengan mulus.

B. Menumbuh Kembangkan Kepekaan Sosial.

Setiap manusia pada dasarnya diberikan kecintaan terhadap harta benda sebagai bagian dari naluri mempertahankan diri ( gharizah baqa' ). Kecintaan ini memicu lahirnya sikap bakhil ( pelit dan kikir ) serta individualis, mementingkan diri sendiri dan enggan berbagi. Salah satu diantara sekian hikmah dan rahasia puasa ialah memupuk solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, tepa selira, kepeduliaan sesama dan kesetia kawanan sosial. Tidak hanya dalam bentuk teori dan kata-kata belaka namun aksi dan praktik langsung. Denagan hikmah dan rahasia ini, manusia dilatih untuk dapat meminimalisasi sikap bakhil dan individualis dalam dirinya sehingga dia mau berbagia dengan orang lain, walau kesukaan terhadap harta benda hakikatnya adalah naluri.
Seperti kita ketahui, sebagian masyarakat terdiri dari golongan dhuafa an mustahd'afin. Meraka apakah yang lemah karena faktor kultural atau struktural mengalami kesusahan da penderitaan hidup. Setiap hari mereka menahan lapar dan dahaga, sementara bekal makanan tidak ada sama sekali kalau tidak menipis. Puasa baginya dalah halal yang wajar yang dialami mereka sehari-hari. Ditambah lagi ketika berpuasa ia tidak bisa turut bersuka cita saat berbuka  kecuali sekedar syukur ditengah sebagian masyarakat merayakan buka puasa dengan pesta, mereka kaum dhuafa dan mustadh'afin sangat membutuhkan kasih sayang dan kepedulian.
Denagan puasa orang-orang kaya akan merasa betapa sakit dan perihnya menahan lapar, padahal itu hanya sementara waktu. Perasaan ini akan mengingatkan mereka kepada sebagian saudaranya yang dhuafa dan mustadh'afin yang senantiasa merasakan lapar dan dahaga sepanjang waktu.
Banyak orang yang menyerukan solidarita sosial, namun banyak pula yang hanya sebatas retorika, teori, aksesoris dan kata-kata belum pada tahapan aksi dan praktik langsun. Disinlah nilai kelebihan dari puasa sebagai mana dibuktikan oleh Nabiyullah Yusuf a.s. Rasul Saw sendiri jika berpuasa ramadhan kedermawanan beliau bertambah luar biasa. Apalagi usai berjumpa dengan malaikat jibril untuk menerima wahyu. Para sahabat menggambarkan kemurahan tangan beliau melebihi cepat dan indahna tiupan angin.
Aksi dan praktik langsung solidaritas sosial pada waktu puasa diantaranya adalah sebagai berikut:
Memberikan makanan berbuka ( ifthar )kepada orang-orang yang berpuasa. Rasulullah Saw bersabda:
من فطر صا ئما كا ن له مثل أجره غير انه لا ينقص من اجر الصا ئم  شيى ء   ( رواه التر مذى )[1]
Artinya: "Barang siapa memberikan makan berbuka kepada orang yang berpuasa maka baginya pahala serupa yang diberikan kepada orang yang berpuasa. Hanya saja pahala orang yang berpuasa tidak terkurangi sedikit pun." ( H.R. Turmuzi).

Memberikan zakat fitrah. Zakat yang diberikan kepada fakir miskin ada kaitannya khusus dengan puasa, yaitu sebagai penambal berbagai kesalahan (dosa-dosa kecil) selama menjalani puasa, sebagai mana hadits nabi Saw:
فر ض رسو ل الله صلى الله عليه وسلم زكا ة الفطرطهرة للص ئم من اللغو والر فث و طعمة للمسا كين ( رواه أبو داود )[2]
Artinya: "Rasulullah Saw, menetapkan zakat fitrah sebagai penyuci orang yang berpuasa dari perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin." (H.R. Abu Daud).

Memperbanyak sedakah, yaitu memberikan bantuan. Bedanya dengan zakat, sedakah tidak terikan oleh aturan tertentu. Sebagai mana sabda Nabi Saw:
افضل الصدقة صدقة فى رمضان ( رواه التر مذى )[3]
Artinya: "Sebaik-baik sadakah di bulan ramadhan." ( H.R. At-Turmuzi)
Menyegerakan zakat maal. Zakat maal umumnya diberikan jika panen (menuai hasil) ibarat bidang pertanian, gaji dan honorarium atau telah cukup hitunga setahun (haul) ibarat bidang perdagangan. Dalam rangka meraih kemuliaan bulan ramadhan, pengeluaran zakat maal ini bisa disegerakan,. Rasulullah Saw bersabda:
حصنوا اموالكم با از كاة وداووا مر ضاكم با لصدقة واستقبلوا امواج البلاء با لد عا ء والتضر ع ( رواه أبو داود )[4]
Artinya: "Pelihara hartamudengan zakat. Obati orang-orang sakitmu dengan sadakah dan hadapi datangnya gelombang bencana dengan do'a dan tadharru' (rendah diri)." (H.R. Abu Daud).

Ditetapkannya membayar fidyah bagi orang-orang yang tidak menjalan puasa karena tidak mampu atauberat oleh karena suatu sebab yang tidak dapat dihilangkan. Mereka boleh tidak berpuasa dan tidak usah mengganti pada hari yang lain namun cukup membeyar fidyah, yaitu memberikan makan saru mud (6ons) setiap hari kepada orang miskin. Allah Swt berfirman:
فمن كان منكم مر يضا أو على سفر فعد ة من أيام أخر وعلى الذ ين يطيقو نه فد يه طعام مسكين... ( البقرة:     )
Artinya: Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin…(Al-Baqarah: 184)

Kaum dhuafa dan mustadh'afin (proletar) sebenarnya memiliki jasa materil maupun non materil yang besar bagi tata kehidupan didunia ini, khususnya bagi orang-orang kaya. "Orang kaya membutuhkan karyawan dan buruh untuk membantunya yang umumnya terdiri dari orang-orang lemah dan miskin. Mereka bisa kaya dan mampu atas sokongan dan jerih payah orang-orang lemah itu."[5] Kaum dhuafa dan mustadh'afin juga memberikan jasa non materil kepada orang-orang kaya yang justru lebih berharga dibandingkan jasa meteri . Atas dasar ini semestinya keberadaan kaum dhuafa dan mustadh'afin yang penting ini perlu diperhatikan dengan menumbuhkan sikap peduli, belas kasih solidaritas, setia kawanan dan semacamnya untuk mengangkat dan mengentaskan mereka yang menjadi sendi kemakmuran dan keadilan. Dengan kepeduliaan rasanya tidak terjadi kesenjangan atau gap yang kian hari makin terbuka melebar atar kaum borjunis dan kaum proletar yang memicu lahirnya krisis dan keterbelakangan.
Bila terjalin hubungan yang serasi antara kaum dhuafa dan mustadh'afin, Allah Swt dan Rasul saw memberikan jaminan bahwa masyarakat dengan itu akan kemajuaan, keadilan dan kemakmuran, tidak akan terjadi krisis, keterbelakangan dan kemerosotan, berkah doa-doa makhluk di langit, bila dimasyarakat terjadi krisis, keterbelakangan dan kemerosotan berkepanjangan, agaknya ada sendi keadilan dan kemakmuranyang terabaikan yaitu kepeduliaan sosial. Rasulullah saw bersabda:
الرا حمهم ن يرحمهم الرحمن ارحموا من فى الارض ير حمكم من فى السما ء  ( رواه البخا رى)[6]
Artinya: Orang-orang yang belas kasih akan dikasihi oleh Allah zat yang pengasih. Berlaku belas kasih kepada makhluk di langit akan berlaku belas kepadamu." (H.R.Bukhari)
Kepeduliaan merupakan ajaran universal artinya masyarakat mana pun terlepas apa agamanya kalau melakukan kepeduliaan, niscaya adil dan makmur. Sebaliknya masyarakat sekalipun muslim kalau kepedulian tidak ditegakkan akan terjauh dari cita adil dan makmur.

C. Membentuk Pendidikan Akhlak.

Keluarga memiliki sejumlah fungsi, yakni fungsi biologis, religius, edukatif, sosial dan ekonomi. Dengan demikian, tugas orang tua sangat berat berkaitan dengan pencapaian fungsi-fungsi tersebut. Kesejahteraan di bidang ekonomi yang merupakan cermin fungsi ekonomi, tidak akan cukup untuk menjadikan putra-putri kita tumbuh menjadi manusia taqwa yang melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-larangan Allah.
Taqwa yang merupakan derajat tertinggi dari keislaman seseorang, harus selalu kita upayakan tercapai dalam keluarga. Selain memenuhi kebutuhan fisik dasar putra-putri, pasangan suami istri atau orang tua harus mampu menciptakan keluarga sakinah, mawaddah warahmah lewat pembinaan ketaqwaan kepada semua anggota keluarga.
Anak sebagai salah satu dari berbagai amanah yang dibebankan Allah Swt kepada orang tua, harus kita besarkan lewat pendidikan dan pengarahan dengan landasan ajaran Islam. Sebagai orang tua, kita harus selalu ingat firman Allah Swt.
يأيهاالذين ءامنوا قواأنفسكم واهليكم نارا... ( اطّهْريم:       )
Artinya: "Wahai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari (bahaya) api neraka"… (Q.S. Attahrim; 6).

Ayat ini merupakan landasan untuk mengajari dan mendidik anggota keluarga, menyuruh mereka kepada ketaatan dan amar ma'ruf nahi mungkar. Kepala rumah tangga mempunyai kewajiban untuk mendidik dan membimbing istri dan anak-anaknya untuk menuju pemahaman islam yang benar. Kepala rumah tangga harus dapat mendorong semangat keluarganya bila didapatinya mereka malas dalam melakukan ketaatan kepada Allah Swt. Janganlah seorang kepala rumah tangga membiarkan dirinya lemah, tidak berani menegur anak-isteri ketika jatuh kedalam Lumpur maksiat.
Dalam hal ini, menata waktu dalam membina keluarga sangatlah penting. Dalam bulan ramadhan pendidikan bisa dilakukan setelah makan sahur, buka puasa atau waktu-waktu lain. Namun satu hal yang penting, ilmu-ilmu yang semestinya kita sampaikan adalah suatu yang sangat bermanfaat, sebagai bekal kehidupan.

وليخش الذين لوتركوا من خلفهم ذرية ضعفا خافوا عليهم فليتقوا الله وليقو لواقولا سديدا  ( انّسء:      )
Artinya: Dan "Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan akan keturunan lemah yang merasa khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karenanya, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (Q.S. An- Nisa': 9).

Dalam mendidik anak ada tiga macam sasaran pokok. Pertama, memberikan dasar pegangan hidup. Kedua, mengisi dengan ilmu pengetahuan. Ketiga atau terakhir, membina atau membentuk akhlakul karimah. Bulan ramadhan merupakan bulan suci penuh berkah dan pengampunan. Karena itu, bulan suci ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengintensifkan pemberian pegangan hidup dan pendidikan akhlak yang baik terhadap seluruh anggota keluarga, termasuk pendidikan bagi anak-anak.
Pendidikan pada bulan puasa seyogyanya lebih dititikberatkan dalam bentuk pemberian contoh-contoh tindakan aktual disertai penjelasan terhadap tiap perilaku orang tua, tanpa nuansa yang bersifat indoktrinatif atau perintah bagi semua ibadah yang kita kerjakan. Dasar-dasar pegangan hidup bisa diterjemahkan antara lain dalam bentuk kegiatan shalat maghrib, isya, dan tarawih berjamaah seluruh anggota keluarga, pasca berbuka. Selanjutnya, perlu disediakan waktu khusus bersama anak-anak membaca ayat suci Al-quran diikuti penjelasan makna dan pahala.
Mendengarkan dan membaca ayat-ayat suci akan menumbuhkan perasaan cinta yang terpatri kepada Alquran. Contoh lain adalah pembayaran zakat fitrah, sedekah, infak, dan zakat mal. Anak bisa diminta membantu menghitung nilai zakat-zakat yang harus dikeluarkan oleh keluarga. Kemudian anak-anak diminta untuk memilih calon penerima dan mengirimkannya.
Dalam situasi ini, orang tua menyisipkan perintah Allah Swt terhadap semua tindakan atau kewajiban yang digariskan agama dan harus dipenuhi atau dilakukan suatu keluarga. Dalam tindakan ini, secara tidak terlihat orang tua menanamkan arti penting pelaksanaan perintah Allah Swt, serta kejujuran, keikhlasan, dan ketulusan untuk berbagi rezeki dengan orang lain.
Anak dapat diberitahu bahwa pelaksanaan perintah Allah Swt ini mengajari pula kejujuran karena kalau orang tua tidak, tidak ada orang yang tahu dan tidak ada hukuman atau teguran yang akan diterima di dunia ini. Pahala atau hukuman Allah Swt akan kita peroleh di akhirat nanti. Ketaatan kepada perintah Allah Swt akan diikuti dengan ketaatan lain yang diperlukan dalam hidup.
Di bidang akhlak karimah, puasa menjadi tempat yang sangat relevan untuk pendidikan disiplin, kesetiakawanan sosial, kasih sayang terhadap orang lain, dan sifat santun serta murah senyum. Disiplin dalam menahan rasa lapar hingga beduk berbuka dan melaksanakan shalat tepat waktu, merupakan contoh yang baik untuk berdisiplin di bidang waktu.
Bila kedisplinan yang dimulai dari perilaku saat puasa dilakukan dari tahun ke tahun, dia akan menjadi bagian dari perilaku anak untuk berdisiplin di bidang lain, misalnya ketaatan terhadap peraturan lalu lintas atau perundang-undangan, disiplin waktu dalam memenuhi perjanjian, dan disiplin melaksanakan tanggung jawab atau pekerjaan yang diembannya.
Orang tua yang menunjukkan sifat santun dan mampu mengendalikan kemarahan dalam kehidupan sehari-hari pada saat puasa, menjadi contoh baik bagi anak-anak. Tidak ada seorang anak yang tumbuh di dalam keluarga santun dan penuh kasih sayang, akan menjadi manusia dewasa egois, kasar, dan mau menang sendiri.
Lapar dan haus sebagai akibat puasa dimaksudkan melatih seorang anak untuk turut merasakan nasib orang yang keadaan ekonominya tidak semujur keluarga. Dari rasa haus dan lapar itu, tumbuh rasa setia kawan, sayang, peka terhadap penderitaan orang lain, dan belas kasih kepada mereka yang kurang beruntung. Pada situasi demikian ini, sangat tepat dan relevan bila orang tua menekankan makna yang terkandung dalam Surat Al Ma'uun: 1-3 yang berbunyi:
أرءيت الذي يكذب بالدين ‘ فذ لك الذي يدع اليتم ‘ ولا يحض على طعا م المسكين (  المعون:      )
Artinya: "Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah meraka yang menghardik anak-anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin". ( Q. S. Al-Ma'un: 1-3).

Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat adalah unsur utama suatu negara. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama, tempat anak-anak bangsa belajar. Apabila keluarga-keluarga tumbuh menjadi satu unit yang taqwa kepada Allah dalam kehidupan santun, penuh kasih sayang, dan toleransi, akan muncul suatu negara yang insya Allah diridai dan diberkahi-Nya. Saat bangsa kita dilanda kekerasan, keberingasan, egoisme individu maupun kelompok, dan pelebaran jurang kaya-miskin, muncul pertanyaan, "Apakah semua ini merupakan gambaran kegagalan sebagian besar kita atau orang tua dalam membentuk pribadi dengan akhlak yang mulia atau baik?"
Tujuan menghalalkan segala cara, pendewaan terhadap materi, dan kenikmatan (hedonisme), gila kekuasaan, ingin menang, dan selalu merasa benar, berkembang dengan subur di negeri tercinta. Maka pada bulan suci yang penuh berkah dan pengampunan, kita perlu melakukan introspeksi terhadap keluarga masing-masing, dengan pertanyaan apakah kita sudah membina anak-anak kita dengan memakai Alquran sebagai pedoman utama. Walaupun pendidikan anak di dalam keluarga berlangsung sepanjang waktu hingga anak menjadi dewasa dan meninggalkan orang tua, bulan puasa adalah bulan paling tepat untuk intensifikasi pendidikan anak berbasis agama lewat contoh-contoh yang konkret. Intensifikasi pendidikan berbasis agama di bulan ramadan yang dilaksanakan dengan sepenuh hati, seyogyanya berlanjut ke bulan-bulan lain. Apabila semua keluarga melaksanakannya, insya Allah negara tercinta ini dapat bangun menjadi bangsa yang sejahtera, bermartabat, santun, dan diridai Allah Swt.

D. Mewujudkan Pendidikan Kesatuan Ummat
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman:
خذ من اموالهم صد قة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم ان صلا تك سكن لهم والله  سميع عليم  ( التو ية :        )
Artinya; Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan serta mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.s.Attaubah; 103).

 zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda, zakat itu juga menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka serta memperkembangkan harta benda mereka.
E. Melahirkan Kesehatan.
Pada puasa itu terkandung kesehatan yang besar dengan semua maknanya, baik kesehatan badan, perasaan, maupun rohani. Dengan demikian, puasa dapat memperbaharui kehidupan seseorang dengan diperbaharuinya sel-sel dan dibuangnya sel-sel yang sudah tua dan mati serta diistirahatkannya perut serta organ pencernaan. Puasa juga dapat memberikan perlindungan terhadap tubuh, membersihkan perut dari sisa-sisa makanan yang tidak dapat dicerna juga dari kelembaban yang ditinggalkan oleh makan dan minuman.
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
Banyak para dokter menyebutkan berbagai manfaat puasa, diantaranya adalah bahwa puasa dapat mempartahankan kelembaban insidentil sekaligus membersihkan pencernaan dari racun yang ditimbulkan  oleh makanan yang tidak sehat, serta mengurangi lemak diperut yang sangat berbahaya bagi jantung, yang ia sama seperti pengasingan kuda yang akan dapat menambah kekuatannya untuk bergerak dan Sedangkan kesehatan rohani yang ditimbulkan oleh puasa adalah berupa bimbingan yang diberikan kepada orang-orang yang berpuasa karena Allah, mengetahui tujuan dari penciptaan manusia, mempersiapkan manusia untuk mengambil semua sarana taqwa yang akan melindunginya dari kehinaan, kerendahan, kerugian dunia dan akhirat. Yang pada akhirnya hati mereka terhindar dari penyakit shubhat dan sahwat yang menimpa banyak orang[7].
Manfaat puasa lainnya adalah membuat seorang hamba dapat memahami dirinya sendiri dan juga kebutuhanya, kelemahan dan kebutuhan dirinya terhadap Rabb-nya. Juga mengingatkan diri akan keagungan nikmat yang telah diberikan Allah, serta mengingat juga akan kebutuhan saudara-saudaranya yang hidup miskin, sehingga mengharuskan dirinya untuk bersyukur kepada Allah sekaligus memohon pertolongan agar dilimpahkan berbagai nikmat untuk selalu mantaatinya serta mengasihi saudara-saudaranya yang hidup miskin sekaligus dapat berbuat baik kepada mereka.

F. Puasa Sebagai Pendidikan Perubahan.

Puasa ramadhan adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali. Namun sayangnya, banyak orang telah dilatih untuk menahan makan dan minum yang sebenarnya pokok, tapi tidak dapat menahan diri dari hal-hal yang tidak perlu, misalnya ada orang yang mengatakan: "saya lebih baik tidak makan daripada tidak merokok", padahal makan itu pokok dan merokok itu tidak perlu.
Kemampuan kita mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak benar menurut Allah dan Rasul-Nya merupakan sesuatu yang amat mendesak, bila tidak, kehidupan ini akan berlangsung seperti tanpa aturan, tak ada lagi halal dan haram, tak ada lagi haq dan bathil, bahkan tak ada lagi pantas dan tidak pantas atau sopan dan tidak.
Yang jelas, selama manusia menginginkan sesuatu, hal itu akan dilakukannya meskipun tidak benar, tidak sepantasnya dan sebagainya. Bila ini yang terjadi, apa bedanya kehidupan manusia dengan kehidupan binatang, bahkan masih lebih baik kehidupan binatang, karena mereka tidak diberi potensi akal, Allah berfirman:
 ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجنّ والإ نس‘ لهم قلو ب لا يفقهو ن بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم ءاذان لا يسمعون بها‘ أولئك كا لا نعام بل هم اضل‘ أو لئك هم الغا فلون (لا عراف :      )
Artinya: Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q. S. Al-A'raf: 179).


Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliyah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang
Diantara manfaat puasa adalah sebagai sarana menyiapkan seorang muslim dengan kekuatan yang menjadikannya mampu untuk melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Dia dapat melakukan latihan melalui puasa sehari-hari sehingga dia dapat menahan diri dari setiap yang dia sukai dan cintai.  Dan dia akan katakan kepada penguasa nafsu dan syahwat untuk tidak akan pernah mengikutinya. Sungguh jawaban yang hebat ini jika berada dalam keridhaan Allah, berarti ia telah berhasil mewujudkan kehormatan dan kedudukan yang tinggi atas syahwat serta ketamakannnya.
Yang demikian itu karena puasa merupakan sarana pengemblengan kekuatan fisik yang mengharuskan pelakunya harus menempuh satu manhaj (metode) tersendiri dalam kehidupannya, dimana tiang penyangganya berupa ketegaran, larangan dan bersabar atas pahit getirnya rasa lapar dan panasnya rasa kehausan, kelelahan fisik dalam mengendalikan diri serta menahan hawa nafsu dan mengekang keinginannya, seakan–akan seorang muslim yang berpuasa itu seorang tentara yang siap mendengar dan mentaati serta menjalankan perintah Rabb-nya tanpa penolakan dan pembangkangan.
Puasa dapat memperkuat keinginan, mendorong kemauan, mengajarkan kesabaran, membantu menjernihkan pikiran, menghidupkan pemikiran, mengilhami pendapat yang cerdas, jika seorang yang berpuasa akan dapat melangkah ke fase relaks, serta melupakan berbagai rintangan yang muncul akibat waktu luang  dan terkadang keterputus asasaan. Sehingga dengan demikian itu dia telah menjadi seorang anggota masyarakat yang dinamis, melakukan perbaikan dan tidak melakukan penghancuran.
Ketika suatu bangsa memiliki keinginan yang kuat dan besar, maka dia tidak akan memperkenankan aggressor atau penjajah untuk menginjakkan kaki ketanahnya atau ikut campur dalam menentukan perjalanan hidupnya. Dengan kekuatan tersebut ia juga akan mampu meraih kemenangan dimedan pertempuran melawan kebodohan, keterbelakangan, melawan nafsu syahwat, serta sanggup menembus segala rintangan pembangunan dan kemajuaan.
Syaikh Ad-Dausari ra mengatakan," membangun keinginan yang kuat di dalam diri bukanlah suatu hal yang mudah. Berbagai kalangan, baik perkumpulan (organisasi) maupun kalangan militer telah berusaha membangun keinginan yang kuat kepada masyarakat masa kini. Padahal, agama islam telah mendahului mereka dalam hal tersebut pada 14 abad yang lalu.Cukup besar kebutuhan orang muslim, khususnya untuk memiliki keinginan kuat dan kemauan yang keras. Oleh karena itu Allah Swt memerintahkan untuk berjuang melawan sakit akibat rasa lapar dan haus dalam menjalankan puasa.[8]
Oleh kerana itu sudah sepatutnya bagi seorang muslim yang berpuasa untuk tidak melakukan hal-hal yang merusak kekuatan ini setelah berbuka, atau mengucilkan serta menghinakannya sehingga pada malam harinya ia akan merusak kuatnya keinginan yang telah ia bangun pada siang harinya.




[1] Imam At-Turmuzi, Sunan At-Turmuzi, Juz IV, (Beirut:  Al-Fikr, t.t ), hal. 413.

[2] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Juz III, (Mesir: Maktabah Al-Masyahid, t.t.), hal. 243.

[3] Imam At-Turmuzi, Sunan At-Turmuzi,…hal. 347.

[4] Abu Daud, Sunan Abu Daud,…hal. 485

[5] Ahmad Syarifuddin, Puasa Menuju Sehat Fisik Dan Psikis, (Jakarta: Gema Insani, 2003), hal. 217

[6] Imam Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Juz III, ( Beirut: Al-Fikr, t.t), hal.  436.


[7] Athiyah Muhammad Salim, Ma'ar Rasuul Fii Ramadhan, (Bairut, t.t), hal. 5.

[8] Syaikh Ad-Dausari, Ash-Shaum ( Mesit: t.t), hal. 23.