Minggu, 27 Oktober 2013

http://abuzuhriy.com/mengambil-pelajaran-dari-puasa-yang-kita-kerjakan/

Mengambil pelajaran dari shaum (puasa) yang kita kerjakan

Ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita, dan kita mampu makan dan minum; tapi kita tidak makan dan minum, karena kita sedang shaum, dan kita tahu bahwa Allaah Maha Mengawasi lagi Maha Melihat perbuatan kita… Maka ini pertanda ada keikhlashan dalam amalan kita…
Maka hendaknya tingkatkan keikhlashan tersebut, dengan MENGERJAKAN perkara-perkara yang DIWAJIBKAN, serta MENINGGALKAN perkara-perkara yang DIHARAMKAN… baik saat kita shaum, maupun diluar shaum…
Jika kita tidak berani untuk sengaja membatalkan shaum kita, ketika tidak dilihat makhluq. maka sudah semestinya kita pun jangan berani-berani untuk meninggalkan kewajiban, dan/atau mengerjakan larangan…
Terlebih lagi jika kita sedang shaum… Apakah kita menyangka Allaah hanya mengawasi kita dalam perkara makan, minum dan jima’ saja? dan Allaah lalai dari amalan wajib yang kita tinggalkan, dan perbuatan mungkar yang kita kerjakan?
Maka hendaknya kita shaum, bukan hanya sekedar menjaga diri dari makan, minum, serta jima’ saja… Tapi LEBIH DARI ITU… menjaga diri dari segala perbuatan yang diharamkanNya (baik itu meninggalkan kewajiban, dan/atau mengerjakan keharaman)… Karena sesungguhnya, maksiat yang kita kerjakan, hanyalah akan mengurangi bahkan mungkin membatalkan pahala shaum kita… Sudah kita berdosa dengan maksiat tersebut, batal pula pahala shaum kita… Sehingga kita hanyalah mendapatkan lapar dan dahaganya saja, pahala tidak kita raih, dan tujuan shaum [yaitu agar kita bertaqwa] tidak tercapai!
Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang shaum, namun dia tidak mendapatkan dari shaum-nya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”
(HR. Ath Thobroniy; terdapat dalam shahiihut targhiib)
Dan jika kita mampu, hendaknya kita berbuat LEBIH LAGI daripada itu… Bahkan meninggalkan segala perkara yang tidak ada manfa’at aakhiratnya… Bahkan itulah TANDA KEBAIKAN ISLAAM yang ada dalam diri kita…
Allaah memfirmankan sifat orang-orang MUKMIN:
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
dan orang-orang yang BERPALING dari perkara yang tidak ada manfa’atnya
(al Mu’minuun: 3)
Rasuulullaah bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
‘Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah MENINGGALKAN perkara yang TIDAK BERMANFA’AT bagi (urusan aakhirat)nya’.”
[Hasan; HR at-Tirmidzi dan selainnya]
Sehingga hari-hari kita hanyalah dipenuhi ketaatan kepadaNya… yang mereka inilah orang yang paling sempurna pahala shaum-nya… Ingat! khusus untuk amalan shaum… Allaah sendiri-lah yang akan membalasnya..
Rasuulullaah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat…
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
Allaah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), ‘Kecuali shaum. shaum tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan (serta minuman, az) karena-Ku…’
(HR. Muslim)
Maka hendaknya kita mengagungkan maqam-Nya setinggi-tingginya, agar Dia menerima shaum kita, dan memberikan balasan kepada kita dengan balasan yang tanpa batas… Aamiin

Rabu, 09 Oktober 2013

Ateh Batu

Ateh batu-Tanah Kelahiranku

Kampuang nan banamo "Ateh Batu", merupakan salah satu kampuang yang berada di daerah Kabupaten pasaman, di kecamatan Tigo Nagari, tepat nya di nagari binjai jorongnya banamo jorong tarantang tunggang.


Minggu, 08 September 2013

PUASA MENDIDIK KEJUJURAN


Sumber: http://jeffriegeovanie.com/index.php/artikel/budaya-sejarah/319-puasa-mendidik-kejujuran
Tanggal: 09 August 2011. Kategori: Kebudayaan & Sejarah
 
Pada saat ini, kejujuran menjadi masalah besar. Tuduhan yang pernah dilontarkan para tokoh agama bahwa pemerintah tidak jujur terkorfirmasi antara lain dengan terkuaknya kasus Muhammad Nazaruddin. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu dalam nyanyian sumbangnya menyeret sejumlah nama yang semuanya dekat dengan Istana. Dan mudah diduga para tertuduh pun semuanya membantah. Tapi, kesaksian para sopir dan pengawal tampaknya jauh lebih nyaring dari bantahan bos-bosnya.

Kemana kejujuran itu pergi? Mengapa ketidakjujuran makin dekat dengan kekuasaan? Faktor utamanya mungkin karena ambisi yang membutakan mata hati. Ketika mata hati dibutakan, pasti akan menyeruak ketidakjujuran. Selanjutnya, ketidakjujuran itu akan terus memanjang dan melingkar karena setiap ketidakjujuran pasti akan membutuhkan topangan ketidakjujuran berikutnya. Bagaimana cara memotong lingkaran ketidakjujuran? Puasa di bulan Ramadhan bisa menjadi salah satu jawaban. Karena puasa satu-satunya ibadah yang tersembunyi dari ruang publik. Berbeda misalnya dengan syahadat yang harus jelas diucapkan dan bisa didengar, shalat yang begitu jelas geraknya, zakat harus ada hartanya, dan haji mengharuskan pergi ke tanah suci. Semua ibadah begitu nyata kecuali puasa.
Karena tersembunyi, hanya Tuhan yang bisa memastikan apakah seseorang menjalankan puasa atau tidak. Seseorang yang mengaku puasa di depan publik, tak ada yang bisa menjamin ia puasa juga pada saat sendirian, apalagi di ruang tersembunyi. Itulah puasa, mensyaratkan kejujuran pelakunya.
Kejujuran harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita. Caranya yang paling efektif, dengan memberikan contoh. Para orang tua dan guru-guru tidak boleh berbohong agar anak-anak (para murid) tidak ikut-ikutan berbohong.
Masalahnya, di negeri yang katanya menjunjung tinggi moralitas agama ini, kejujuran terasa hanya mudah dikatakan tetapi teramat sulit dilaksanakan. Karena tidak mudahnya menjadi orang jujur kiranya wajar belaka jika Rasulullah, pada saat ditanya para sahabat: apa yang harus dilakukan agar dapat masuk surga? Jawab beliau: “engkau jangan bohong”.

Kebohongan –dalam arti luas— setidaknya ada tiga macam: (1) berbohong dalam arti tidak mengatakan hal yang sebenarnya; (2) berbohong dalam arti menutupi keburukan atau kesalahan; dan (3) berbohong dalam arti mengingkari ucapan atau tindakannya sendiri. Apa pun macamnya, seperti sudah disinggung di atas, kebohongan merupakan sumber dari kebohongan-kebohongan yang lain. Untuk menutupi satu kebohongan sudah pasti akan dibutuhkan dua atau lebih kebohongan.
Memang ada juga berbohong dengan maksud yang baik hingga dapat ditoleransi. Misalnya berbohong untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan, berbohong pada pihak musuh  saat berperang, dan berbohong terhadap orang jahat untuk menyelamatkan nyawa orang baik-baik. Tetapi secara umum, kebohongan merupakan sumber malapetaka, baik bagi sang pembohong sendiri maupun bagi orang lain.
Sekarang ini rasanya sulit sekali untuk menemukan teman, sahabat, dan para pemimpin yang benar-benar jujur baik pada diri sendiri maupun –terutama—pada rakyatnya. Karena begitu terbiasanya para pemimpin berbohong maka terasa aneh pada saat ada pemimpin yang menyampaikan kejujuran.
Menyampaikan kejujuran –terutama pengakuan telah berbuat kesalahan—dianggap sebagai tindakan yang naïf atau bahkan dungu. Inilah saya kira, salah satu anomali modernitas yang kita hadapi sekarang. Tata nilai dan norma-norma kesusilaan menjadi jungkir balik. Yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan.
Di tengah masyarakat yang sudah sarat kebohongan ibadah puasa bisa menjadi harapan, meskipun pasti tidak akan bisa secara instan mengubah segalanya. Puasa mungkin hanya ibarat seember air di padang tandus.


Selasa, 07 Mei 2013

hadis puasa

Dalil Ibadah Puasa Ramadhan


Puasa adalah suatu ibadah yang diperintahkan Allah SWT kepada anak cucu Adam as. Yakni semua manusia yang ada di bumi ini. Karena puasa ini sebenarnya adalah satu ibadah yang sejak dahulu kala telah diakui oleh agama-agama sebelum Islam, kendati manusia telah mengadakan perubahan tentang caranya dan menukarnya. Tentang kewajiban puasa ini sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 183, yaitu: “ hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. 
Dalam sebuah hadits Qudsi, juga dijelaskan tentang keutamaan dan keunikan dari puasa ini yaitu Allah berfirman: “semua amal putra putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya. Dan untuk lebih jelasnya kami akan membahas tentang puasa ini lebih jauh lagi pada bab berikutnya.


1. Kitab Riyadus Sholihin (1219 dan 1221) 
1219- وعن ابي هريرة, رضي الله عنه, عن النبي, صلعم, قل: " من صام رمضان وقامه ايمانا واحتسابا, غفرله ما تقدم من ذنبه". متفق عليه.
Dan dari Abi Hurairah ra. Dari Nabi SAW. Berkata: “barang siapa puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dengan mengharap ridhaa Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.
1221- وعنه, ان رسول الله صلعم, قل: " صوموا لرؤ يته, واْفطرو لرؤيته, فان غبي عليكم, فاكملوا عدة شعبان ثلاثين" متفق عليه. 
Darinya (Abu Hurairah) bahwa Rasulullah SAW bersabda: berpuasalah setelah melihat hilal. Jika mendung menyelimuti, maka sempurnakanlah dangan hitungan hilal.
2. Kitab Lu’lu’ Wal Marjan 
707- عن ابي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلعم:" قال الله كل عمل ابن ادم له الا الصيام, فانه لي وانا اجزي به والصيام جنة, واذا كان يوم صوم احدكم فلا يرفث ولا يصخب فان سابه احد او قاتله فليقل اني امرؤ صائيم, والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم اطيب عند الله من ريح المسك للصائم فرحتان يفرحهما: اذا اْفطر فرح واذا لقي ربه فرح بصومه".ْ
Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda:” setiap amal ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa (yang dilakukan untukku dan aku akan memberikan pahala untuk itu). Dan puasa itu adalah perisai (dari api neraka) maka orang yang berpuasa janganlah berkata kotor(keji) dan jangan pula bersuara keras (tidak boleh ribut). Dan apabila seseorang mencaci maki atau mengajak berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan “saya adalah orang yang sedang berpuasa”. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditanganNya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah daripada bau minyak misk (kasturi). Dan inilah perkataan Allah, ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa, pertama, pada saat berbuka (ifthar), kedua, pada saat bertemu dengan Tuhannya pada saat itulah ia akan menemukan kegembiraan atas puasanya”.
708- عن ابي هريرة رضي الله عنه, ان رسول الله صلعم, قال: الصيام جنة فلا يرفث ولا يجهل وان امرؤ قاتله او شاتحه فليقل اني صائم مرتين والذي نفسي بيده لخلوف فم الصائم اطيب عند الله تعالي من ريح الحسك يترك طعامه وشرابه وشهوته من اجلي الصيام لي واْن اْجزي به و الحسنة بعشر امثالها.
Diriwyatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda: puasa adalah perisai (dari api neraka), maka janganlah kamu berkata kotor dan bersuara keras. Dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakan kepadanya aku sedang berpuasa. Dan Nabi SAW menambahkan demi Dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari bau minyak misk (disisi Allah). Dan ia tidak makan, tidak minum dan meninggalkan nafsunya karena Aku, puasa Adalah untukku, dan akulah yang akan membalasnya dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali kelipatannya.
3. Bulughul Maram (682) 
عن ابي هريرة قال , قال رسول الله صلعم. " من لم يدع قول الزود والعمل به والجهل, فليس لله حاجة في ان يدع طعامه وشرابه ".(رواه البخاري)
Dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: ”Siapa tidak mau menolak (omongannya) yang dusta, dan perbuatan kotornya, dan bodohnya, maka Allah tidak perlu (omongannya dalam) menolak lapar dan dahaganya (makanan dan minumannya)”.
Keterangan: maksud hadits
Tiada faedah puasanya orang yang tidak mau mencegah omongan dan perbuatannya yang dusta serta bersikap bodoh atau berkelakuan dungu.
4. Sunan Turmudzi (619) 
حدثنا هناد حدثنا عبده والمحاري, عن محمد بن عمر وعن ابي سلمة, عن ابي ابي هريرة قال: قال رسول الله صلعم. " من صام رمضان وقامه ايمانا واحتسابا غفرله ما تقدم من ذنبه ومن قام ليلة القدر ايمانا واحتسابا غفر ما تقدم من ذنبه".
Menceritakan kepada kami Hannad, menceritakan kepada kami Abduh dan Al-muhadi dan Muhammad bin Amr dan Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”barang siapa yang berpuasa dibulan Ranmadhan dan beribadah dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa yang telah berlalu akan diampuni, dan barang siapa yang berdiri pada saat Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

B. Kandungan Hadits

1. Keutamaan Puasa
Hadits diatas menjelaskan bahwa puasa Ramadhan adalah puasa yang difardhukan dan mempunyai banyak keutamaan jika puasa itu dilakukan karena Allah dan bukan karena ia takut kepada manusia, maka Allah langsung memberi balasannya, yakni dia akan bertemu langsung dengan Allah. Allah pun memerintahkan agar berbuat baik. sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berfirman: “semua amal putra putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.
Selain itu hadits diatas juga menjelaskan tentang keutamaan nafasnya orang yang berpuasa itu lebih harum dibandingkan dengan minyak misk.
2. Meninggalkan Perkataan dan Perbuatan Kotor
Tiada faedah puasanya orang yang tidak mau mencegah omongan dan perbuatannya yang kotor dan dusta, Ibnu Hajar pun berpendapat bahwasannya Allah tidak akan menghendaki puasa orang yang perbuatannya seperti itu, sedangkan Syarih berkata: hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan tidak akan mengakibatkan puasanya tidak diterima oleh Allah, tetapi hanya akan dikurangi pahalanya.
3. Hikmah Puasa dan Keutamaan Malam Lailatul Qadr
Ibadah puasa itu mengandung beberapa hikmah, diantaranya ialah:
a. Tanda terima kasih kepada Allah karena semua ibadah mengandung arti terima kasih kepada Allah atas nikmat pemberiannya yang tidak terbatas banyaknya dan tidak bernilai harganya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ibrahim: 34.
وان تعدوا نعمت الله لا تحصوها
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya”.
b. Didikan kepercayaan seseorang yang telah sanggup menahan makan dan minum dari harta yang halal kepunyaannya sendiri karena ingat kepada Allah sudah tentu ia tidak akan meningalkan segala perintah Allah, dan tidak akan berani melanggar segala larangannya.
c. Didikan perasaan belas kasihan terhadap fakir miskin karena seseorang yang telah merasa dan pedihnya perut kosong/ tidak makan.
d. Menjaga kesehatan. 
Didalam bulan puasa Ramadhan terdapat satu malam yang mempunyai kelebihan yakni malam Lailatul Qadr. Dan kelebihannya yakni berlipat gandanya pahala amal ibadah pada malam itu lebih dari 29.500 ganda. jika seseorang dapat menemukan satu malam itu, maka ia akan mendapat ganjaran lebih banyak dari pada beramal seribu bulan.
4. Ketentuan Datang dan Berakhirnya Puasa
Puasa Ramadhan diwajibkan atas tiap-tiap orang mukallaf dengan salah satu dari ketentuan-ketentuan berikut ini:
a. Dengan melihat bagi yang melihatnya sendiri.
b. Dengan mencukupkan bulan Sya’ban tiga puluh hari. Maksudnya, tanggal bulan Sya’ban itu dilihat, tetapi kalau bulan tanggal satu Sya’ban tidak terlihat (dalam keadaan langit mendung), tentu kita tidak dapat menentukan hitungan, maka sumpurnakanlah 30 hari.

Kesimpulan

Dari beberapa hadits di atas dan beberapa penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa puasa merupakan sebuah ibadah yang yang diperintahkan Allah kepada umatnya yang beriman. Dan waktu untuk puasa itu sendiri telah ditentukan Allah pada bulan-bulan tertentu yang mana datangnya dan berakhirnya bulan puasa itu ter dapat tanda-tandanya tersendiri. 
Selain itu dalam puasa ini terdapat banyak keutamaan-keutamaan yang terkandung didalamnya, serta hikmah-hikmah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang benar-benar menjalankan puasa semata-mata untuk Allah dan karena Allah. Dan Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Jannah, Masrap Suhaemi. A.H. Abu Laily Istiqomah B.A, 1993. Terjemah Bulughul Maram, Surabaya: Al Ikhlas.
Muhammad, Abu Abdillah bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah dan Abu Muslim bin Hajjaz, Lu’Lu’ Wal Marjan, Juz II, Bairut Libanon: Darul Fikr.
Muhmmad, Abu Isa bin Isa bin Surah, 1994. Sunan Turmudzi, Bairut Libanon: Darul Fikr. 
Yahya, Imam Abu Zakaria bin Sharab an Nawawi, Riyadus Shalihin, Karachi Pakistan: International Islamic

Jumat, 01 Februari 2013

KAJI BASALISIAH USAH SURAU NAN DI TINGGAKAN

Kok sakah batang salisiah tibarau rabah-rabahan kok sapatah kaji basalisiah usah surau di tinggakan....(Yus dt. parpatiah-Pitaruah ayah)

Manisnya hidup dan teman akrab



     "Tak pernah ku nikmati manisnya hidup hingga teman duduknya rumah dan buku. tak ada yang lebih mulia daripada ilmu karenanya aku mencarai sebagai teman akrab (Ahmad bin abdul aziz Al-jurjani dalam buku Mutiara hikmah membangun jiwa karangan Ahkmad muhaimin azzet,daarul hikmah: Yogjakarta,2010 halaman 24)

MERAIH SIMPATI ORANG LAIN



Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu. tetapi dengan wajah yang menarik (ramah),, dan dengan ahklak yang baik (HR. Albazzar) ( Dalam buku Mutiara hikmah membangun jiwa karangan Ahkmad muhaimin azzet halaman 32)

JANGAN MEMBENCI ORANG YANG BERBUAT DOSA

'Janganlah engkau membenci orang yang berbuat dosa sebab bisa jadi sebelum meninggal dunia, dia bertaubat kepada Allah dan diterima. maka dia menjadi orang yang tinggi derajatnya (Dzun Nun Al-Misri, dalam buku Mutiara hikmah membangun jiwa karangan Ahkmad muhaimin azzet)



Sabtu, 15 Desember 2012

Malam pertama






Satu hal sebagai bahan renungan kita...
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa

Justeru malam pertama 'perkawinan' kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan

Seluruh badan kita terbuka....
Tak ada sehelai benangpun menutupinya. .
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan

Bahkan lubang ? lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah sosok kita....
Itulah jasad kita waktu itu

Setelah dimandikan.. .,
Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih

Kain itu ...jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal, yaitu Kafan

Wewangian ditaburkan ke baju kita...
Bagian kepala..,badan. .., dan kaki diikatkan

Tataplah.... tataplah. ..itulah wajah kita

Keranda pelaminan... langsung disiapkan

Pengantin bersanding sendirian...

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga

Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah gontai seluruh keluarga

Serta rasa haru para handai taulan

Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan. .yang tlah tiba duluan

dan akhirnya.... .
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian...
Tuk mempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan

Malam pertama bersama 'kekasih'..
Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi....
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah kita kan memperoleh Siksa Kubur.....
Kita tak tahu...dan tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya kita tak pernah galau ketakutan... .
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...

Inilah masa menunggu sebelum tibanya hari akhir dari segala-galanya. .
Akankah sejak malam ini kita menunggu untuk ke surga atau ke neraka..
Mungkin tak pantas kita rasanya menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....sanggupkah kita menjadi ahli neraka...

Wahai Sahabat...mohon maaf...jika malam itu aku tak menemanimu

Bukan aku tak setia...
Bukan aku berkhianat.. ..
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga

Aku berdo'a...semoga kita bisa khusnul khotimah sehingga jadi ahli
syurga.Aaamiin....


Dari millis: http://yuupi.multiply.com/journal

Jumat, 02 November 2012

HANCURNYA PILAR-PILAR PENDIDIKAN KARAKTER




1.      Pendahuluan
Mencetak generasi unggul dan ”sukses hidup” di tengah persaingan global dapat dilakukan dengan jalan menyelenggarakan pendidikan yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi, bakat, minat dan kesanggupannya. Menyelenggarakan pendidikan yang membebaskan anak dari tindak kekerasan. Menyelenggarakan pendidikan yang memperlakukan anak dengan ramah. Menyelenggarakan pendidikan yang memanusiakan anak. Menyelenggarakan pendidikan yang memenuhi hak-hak anak. Hal tersebut akan terwujud jika pendidikan yang demikian dilakukan sejak anak usia dini.
Islam sangat memperhatikan pemeliharaan hidup dan kehidupan manusia sejak dini. Perhatian itu melebihi perhatian apa pun yang ada pada undang-undang yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Islam sangat memperhatikan anak-anak pada setiap fase kehidupan mereka. Bahkan Islam memperbolehkan seorang ibu yang hamil membatalkan puasanya, jika itu dikhawatirkan dapat membahayakan janin atau anaknya yang sedang dikandung atau disusuinya. Semua itu membuktikan bahwa Islam sangat menghargai keberadaan hidup dan kehidupan manusia semenjak manusia berupa janin sampai manusia menjadi besar dan dewasa. Oleh karena itu, pendidikan harus diberikan manusia semenjak usia dini. Karena pendidikan yang dimulai sejak usia dini mempunyai daya keberhasilan yang tinggi dalam menentukan tumbuh-kembang kehidupan anak selanjutnya. Oleh karena itu disini penulis akan membahas lebih lanjut tentang:
a.       Pendidikan Anak Usia Dini
b.      Hancurnya Pilar-Pilar Pendidikan Karakter

2.      Pembahasan
A.    Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
Sebelum dibicarakan tentang pendidikannya terlebih dahulu akan dibahas tentang anak usia dini. Yang dimaksud Anak Usia Dini adalah kelompok manusia yang berusia 0-6 tahun ( di Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Menurut para pakar pendidikan anak, yaitu kelompok manusia yang berusia 0-8 tahun. Jadi anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik, dalam arti memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik halus dan kasar), intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan prilaku serta agama), bahasa dan komunikasi yang khusus sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.[1]
Berdasarkan keunikan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak usia dini terbagi dalam empat tahapan, yaitu:
a.        Masa bayi lahir sampai 12 bulan
b.      Masa balita usia 1-3 tahun,
c.       Masa prasekolah usia 3-6 tahun
d.      Masa kelas awal SD 6-8 tahun.
Setelah diketahui pengertian Anak Usia Dini, berikut dipaparkan tentang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD adalah suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik maupun non fisik, dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal pikir, emosional dan sosial yang tepat agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Adapun upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.
Pendidikan usia dini dalam perspektif pendidikan Islam adalah usaha membantu anak agar fitrah (QS. 30:30) yang disebut dengan kecakapan/ability baik fisik maupun non fisik itu dapat dibantu perkembangannya sejak dini. Pendidikan usia dini dapat dimaknakan sebagai semua proses yang mengarah pada bantuan pemeliharaan jiwa manusia untuk selalu berada dalam kemaslahatan hidup baik di dunia maupun di akhirat, dan membantu agar fitrah yang merupakan kecakapan potensial yang dibawa sejak kelahirannya dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ketentuan dalam shari’at Islam.[2]

B.     Tujuan Pendidikan Anak Menurut Islam
Pendidikan dalam pandangan Islam dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan Islam tidak hanya membentuk anak yang beriman, berakhlak mulia, beramal shaleh tetapi juga menjadikan anak tersebut berilmu pengetahuan dan berteknologi, juga berketerampilan dan berpengalaman sehingga ia menjadi orang yang mandiri berguna bagi dirinya, agama, orang tua serta negaranya.[3]
Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan menurut Islam dalam membentuk seorang muslim yang mampu melaksanakan kewajibannya kepada Allah, sebagaimana firman allah yang artinya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56). Maksud dari kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Allah dalam segala macam bentuk ibadah. Sehingga jelas bahwa tujuan pendidikan dalam Islam harus terkait dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri di dunia ini, yakni menyembah Allah SWT dengan segala aspeknya ibadahnya, baik yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia maupun dengan lingkungannya. Ibadah yang juga berhubungan dengan masalah ukhrowi (akhirat) maupun masalah dunia (ilmu dunia).
C.     Ruang Lingkup Pendidikan Anak Menurut Islam
Adapun Ruang lingkup pendidikan anak menurut secara garis besar dibagi menjadi 5, yaitu:


1.       Pendidikan Keimanan
Tujuan pendidikan dalam Islam yang paling hakiki adalah mengenalkan peserta didik kepada Allah SWT. Mengenalkan dalam arti memberikan pembelajaran tentang keesaan Allah SWT, kewajiban manusia terhadap Allah dan aspek-aspek aqidah lainnya. Dalam hal ini dapat dikaji dari nasehat Luqman kepada anaknya yang digambarkan Allah dalam firmannya:
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya diwaktu ia memberikan pelajaran kepadanya:”hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesengguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang nyata.” (Q.S 31:13)
Kemudian bagaimana cara mengenalkan Allah SWT dalam kehidupan peserta didik melalui proses pendidikan, antara lain:
a)      Menciptakan hubungan yang hangat dan harmonis
b)      Jalin hubungan komunikasi yang baik dengan anak, bertutur kata lembut, bertingkah laku positif.
c)      Menghadirkan sosok Allah melalui aktivitas rutin seperti ketika kita bersin katakan alhamdulillah. Ketika kita memberikan uang jajan katakan bahwa uang itu titipan Allah jadi harus dibelanjakan dengan baik seperti beli roti.
d)     Memanfaatkan momen religius seperti sholat bersama, tarawih bersama di bulan ramadhan, tadarus, buka shaum bersama.
e)      Memberi kesan positif tentang Allah
f)       Kenalkan sifat-sifat baik Allah Jangan mengatakan “ nanti Allah marah kalau kamu berbohong” tapi katakanlah “ anak yang jujur disayang Allah”.
g)      Beri teladan,  anak akan bersikap baik jika orang tuanya bersikap baik karena anak menjadikan orang tua model atau contoh bagi kehidupannya.
“hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.(Q.S 61:2-3)
h)      Kreatif dan terus belajar sejalan dengan perkembangan anak. Anak akan terus banyak memberikan pertanyaan. Sebagai orang tua tidak boleh merasa bosan dengan pertanyaan anak malah kita harus dengan bijaksana menjawab segala pertanyaannya dengan mengikuti perkembangan anak.


2.      Pendidikan Akhlak
Allah mengutus Nabi Muhammad kepada umat manusia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Dalam proses pendidikan terdapat hadits dari Ibnu Abas bahwa Rasulullah pernah bersabda: “… Akrabilah anak-anakmu dan didiklah akhlak mereka.”, begitu juga Rasulullah saw bersabda: ”Suruhlah anak-anak kamu melakukan shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah mereka kalau meninggalkan ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Daud).
Bagaimana cara megenalkan akhlak kepada anak melalui proses pendidikan, antara lain:
a.       Penuhilah kebutuhan emosinya
Dengan mengungkapkan emosi lewat cara yang baik. Hindari mengekspresikan emosi dengan cara kasar, tidak santun dan tidak bijak. Berikan kasih sayang sepenuhnya, agar anak merasakan bahwa ia mendapatkan dukungan.
b.      Memberikan pendidikan mengenai yang haq dan bathil
Sebagaimana firman Allah dalam yang artinya:“Dan janganlah kamu campur adukan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui .”(Q.S 2:42) Seperti bahwa berbohong itu tidak baik, memberikan sedekah kepada fakir miskin itu baik.
c.       Memenuhi janji
Dalam hal ini Hadits Rasulullah berbunyi:”…. Jika engkau menjanjikan sesuatu kepada mereka, penuhilah janji itu. Karena mereka itu hanya dapat melihat, bahwa dirimulah  yang memberi rizki kepada mereka.” (H.R Bukhari)
d.      Meminta maaf jika melakukan kesalahan
e.       Meminta tolong/ mengatakan tolong jika kita memerlukan bantuan.
3.      Pendidikan intelektual
Menurut kamus Psikologi istilah intelektual berasal dari kata intelek yaitu proses kognitif/berpikir, atau kemampuan menilai dan mempertimbangkan. Pendidikan intelektual ini disesuaikan dengan kemampuan berpikir anak. Menurut Piaget seorang Psikolog yang membahas tentang teori perkembangan yang terkenal juga dengan Teori Perkembangan Kognitif mengatakan ada 4 periode dalam perkembangan kognitif manusia, yaitu:
a.       Periode 1, yaitu 0 – 2 tahun (sensori motorik)
Mengorganisasikan tingkah laku fisik seperti menghisap, menggenggam dan memukul pada usia ini cukup dicontohkan melalui seringnya dibacakan ayat-ayat suci al-Quran atau ketika kita beraktivitas membaca bismillah.
b.      Periode 2, yaitu 2 tahun – 7 tahun (berpikir Pra Operasional)
Anak mulai belajar untuk berpikir dengan menggunakan symbol dan khayalan mereka tapi cara berpikirnya tidak logis dan sistematis.
Seperti contoh nabi Ibrahim mencari Robbnya.
c.       Periode 3, yaitu 7 tahun- 11 tahun (Berpikir Kongkrit Operasional)
Anak mengembangkan kapasitas untuk berpikir sistematik
Contoh : Angin tidak terlihat tetapi dapat dirasakan begitu juga dengan Allah SWT tidak dapat dilihat tetapi ada ciptaannya.
d.      Periode 4, yaitu 11 tahun- Dewasa (Formal Operasional)
Kapasitas berpikirnya sudah sistematis dalam bentuk abstrak dan konsep lebih idealistik. [4]
4.      Pendidikan fisik
Dengan memenuhi kebutuhan makanan yang seimbang, memberi waktu tidur dan aktivitas yang cukup agar pertumbuhan fisiknya baik dan mampu melakukan aktivitas seperti yang disunahkan Rasulullah: “ Ajarilah anak-anakmu memanah, berenang dan menunggang kuda.” (HR. Thabrani)
5.      Pendidikan Psikis
Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan janganlah kamu bersifat lemah dan jangan pula berduka cita, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. 3:139)
                        Upaya dalam melaksanakan pendidikan psikis terhadap anak antara lain :
a.        Memberikan kebutuhan emosi, dengan cara memberikan kasih sayang, pengertian, berperilaku santun dan bijak.
b.      Menumbuhkan rasa percaya diri
c.       Memberikan semangat tidak melemahkan
HANCURNYA PILAR-PILAR PENDIDIKAN KARAKTER
A.    Pengertian
Dalam kamus besar bahasa indonesia (1989), karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lainn: tabiat dan watak.[5]
Pendidikan karakter pada hakikatnya adalah sebuah perjuangan setiap individu untulk menghayati kebebasanya dalam relasi mereka dengan orang lain dan lingkungannya sehingga ia dapat semakin mengukuhkan dirinya sebagai pribadi yang unik dan khas serta memiliki integritas moral yang dapat dipertanggung jawabkan. [6]
Pendidikan karakter yang baik adalah pendidikan yang dimulai sedini mungkin dalam keluarga menurut supyanto menyebutkan 9 karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia. Pilar tersebut adalah cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian, kejujuran, amanah dan diplomatis, hormat dan santun, kasih sayang, kepedulian, dan kerja sama. Lalu, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai dan persatuan. Kemudian, ada pula K4 (kesehatan, kebersihan, kerapian dan keamanan).[7]
B.     Pilar-pilar pendidikan moral
Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adapt kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut.[8]

Realisasi pendidikan karkter juga harus ditopang oleh tiga pilar utama lembaga pendidikan yaitu
1.      Rumah tangga
pendidikan di rumah tangga dilakukan oleh orang tua dan keluarga terdekat lainnya dengan dasar tanggung jawab moral keagamaan yakni dengan menganggap bahwa anak sebagai titipan dan amanah tuhan yang harus di pertanggung jawabkan. Namun dalam kenyataannya tidak semua orang tua memiliki wawasan, pengalaman, keahlian dan pemahaman tentang paedagogi, sehingga peran-peran yang harus di mainkan orang tua dalam mendidik karakter putra putrinya tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
2.      Sekolah
Bertolak dari berbagai kekurangan yang dimiliki orang tua dirumah maka pendidikan karakter selanjutnya diserahkan kepada sekolah dengan pertimbangan selain karena merupakan institusiyang di bangun atas tugas utamanya mendidik karakter bangsa juga sekolah terdapat infrastruktur sarana dan prasarana, SDM, manajement dan sistem yang lain yang berkaitan dengan urusan pendidikan. Namun karena tidak semua sekolah mempunyai visi, misi, tujuan dan komitmen yang jelas tentang pendidikan karakter, serta lemahnya dalam menerapkan metodologi dan pendekatan, menyebabkan pendidikan karakter disekolah tidak dapat berjalan dengan lancar.
3.      Masyarakat (negara)
Selanjutnya karena rumah tangga dan sekolah sebagai pilar-pilar utama bagi pendidikan karakter tersebut kurang efektif lagi bahkan sudah hancur maka pemerintah dan masyarakat juga harus bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter. Melalui tanggung jawab, otoritas, dana, fasilitas, SDM, dan sistem yang dimilikinya.[9]




3.      Penutup
a.      Kesimpulan
Dari uraian di atas tadi dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan anak usia dini dalam persepektif Islam yaitu usaha membantu anak agar fitrah yang disebut dengan kecakapan/ability baik fisik maupun non fisik itu dapat dibantu perkembangannya sejak dini dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ketentuan dalam shari’at Islam.
Tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk anak yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, beramal shaleh dan juga menjadikan anak tersebut berilmu pengetahuan dan berteknologi, berketerampilan dan berpengalaman sehingga ia menjadi orang yang mandiri berguna bagi dirinya, agama, orang tua serta negaranya.
Pendidikan karakter yaitu pendidikan yang menanamkan nilai-nilai luhur pada diri peserta didik. Pendidikaan karakter terkait dengan tiga matra pendidikan yaitu, pendidikan individual, pendidikan sosial dan pendidikan moral.
b.      Saran
Sejalan dengan paradigma pendidikan yang semakin maju maka sebagai generasi penerus kita harus bisa untuk menjawab tantangan yang ada di depan mata. Untuk itu kami sebagai pemakalah memberikan sedikit sumber atau bahan bacaan bagi pembaca sebagai pedoman dalam menjalankan pendidikan dan kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita bersama.









DAFTAR PUSTAKA

Nana Syaodih Sukmadinata,2004. Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, Cet. 2.
Abuddin Nata.2012.  Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Indrayani. 2012.  Pendidikan Karakter, Kerangka,Metode Dan Aplikasi Untuk Pendidik Dan Profesional, baduose media.
Jamal makmur asmani. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter Disekolah,yogyakarta, diva press.
Kompasiana,sabtu, 27 oktober 2012, diakses dari: www.soulofcipta.blogspot.com
Eni Purwati, Rabu, 24 Oktober, diakses dari : http://anisachoeriah-paud.blogspot.com





[2] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung : Remaja Rosdakarya, Cet. 2, 2004), hal.92
[3]  Abuddin Nata. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2012. Hal. 140.
[4] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009. hal. 101

[5] Indrayani, Pendidikan Karakter, Kerangka,Metode Dan Aplikasi Untuk Pendidik Dan Profesional, baduose media, 2012, h. 27
[6] Abudinnata, Kapita Selekta Pendidikan Ilslam,Rajawali Pers,jakarta,2012, .h149
[7] Jamal makmur asmani,Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter Disekolah,yogyakarta, diva press, 2011. H51
[8] Kompasiana,sabtu, 27 oktober 2012, diakses dari: www.soulofcipta.blogspot.com
[9] Abudinnata, Kapita Selekta Pendidikan Ilslam. Op Cit. Hal. 155