Minggu, 08 September 2013

PUASA MENDIDIK KEJUJURAN


Sumber: http://jeffriegeovanie.com/index.php/artikel/budaya-sejarah/319-puasa-mendidik-kejujuran
Tanggal: 09 August 2011. Kategori: Kebudayaan & Sejarah
 
Pada saat ini, kejujuran menjadi masalah besar. Tuduhan yang pernah dilontarkan para tokoh agama bahwa pemerintah tidak jujur terkorfirmasi antara lain dengan terkuaknya kasus Muhammad Nazaruddin. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu dalam nyanyian sumbangnya menyeret sejumlah nama yang semuanya dekat dengan Istana. Dan mudah diduga para tertuduh pun semuanya membantah. Tapi, kesaksian para sopir dan pengawal tampaknya jauh lebih nyaring dari bantahan bos-bosnya.

Kemana kejujuran itu pergi? Mengapa ketidakjujuran makin dekat dengan kekuasaan? Faktor utamanya mungkin karena ambisi yang membutakan mata hati. Ketika mata hati dibutakan, pasti akan menyeruak ketidakjujuran. Selanjutnya, ketidakjujuran itu akan terus memanjang dan melingkar karena setiap ketidakjujuran pasti akan membutuhkan topangan ketidakjujuran berikutnya. Bagaimana cara memotong lingkaran ketidakjujuran? Puasa di bulan Ramadhan bisa menjadi salah satu jawaban. Karena puasa satu-satunya ibadah yang tersembunyi dari ruang publik. Berbeda misalnya dengan syahadat yang harus jelas diucapkan dan bisa didengar, shalat yang begitu jelas geraknya, zakat harus ada hartanya, dan haji mengharuskan pergi ke tanah suci. Semua ibadah begitu nyata kecuali puasa.
Karena tersembunyi, hanya Tuhan yang bisa memastikan apakah seseorang menjalankan puasa atau tidak. Seseorang yang mengaku puasa di depan publik, tak ada yang bisa menjamin ia puasa juga pada saat sendirian, apalagi di ruang tersembunyi. Itulah puasa, mensyaratkan kejujuran pelakunya.
Kejujuran harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita. Caranya yang paling efektif, dengan memberikan contoh. Para orang tua dan guru-guru tidak boleh berbohong agar anak-anak (para murid) tidak ikut-ikutan berbohong.
Masalahnya, di negeri yang katanya menjunjung tinggi moralitas agama ini, kejujuran terasa hanya mudah dikatakan tetapi teramat sulit dilaksanakan. Karena tidak mudahnya menjadi orang jujur kiranya wajar belaka jika Rasulullah, pada saat ditanya para sahabat: apa yang harus dilakukan agar dapat masuk surga? Jawab beliau: “engkau jangan bohong”.

Kebohongan –dalam arti luas— setidaknya ada tiga macam: (1) berbohong dalam arti tidak mengatakan hal yang sebenarnya; (2) berbohong dalam arti menutupi keburukan atau kesalahan; dan (3) berbohong dalam arti mengingkari ucapan atau tindakannya sendiri. Apa pun macamnya, seperti sudah disinggung di atas, kebohongan merupakan sumber dari kebohongan-kebohongan yang lain. Untuk menutupi satu kebohongan sudah pasti akan dibutuhkan dua atau lebih kebohongan.
Memang ada juga berbohong dengan maksud yang baik hingga dapat ditoleransi. Misalnya berbohong untuk mendamaikan dua orang yang sedang bermusuhan, berbohong pada pihak musuh  saat berperang, dan berbohong terhadap orang jahat untuk menyelamatkan nyawa orang baik-baik. Tetapi secara umum, kebohongan merupakan sumber malapetaka, baik bagi sang pembohong sendiri maupun bagi orang lain.
Sekarang ini rasanya sulit sekali untuk menemukan teman, sahabat, dan para pemimpin yang benar-benar jujur baik pada diri sendiri maupun –terutama—pada rakyatnya. Karena begitu terbiasanya para pemimpin berbohong maka terasa aneh pada saat ada pemimpin yang menyampaikan kejujuran.
Menyampaikan kejujuran –terutama pengakuan telah berbuat kesalahan—dianggap sebagai tindakan yang naïf atau bahkan dungu. Inilah saya kira, salah satu anomali modernitas yang kita hadapi sekarang. Tata nilai dan norma-norma kesusilaan menjadi jungkir balik. Yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan.
Di tengah masyarakat yang sudah sarat kebohongan ibadah puasa bisa menjadi harapan, meskipun pasti tidak akan bisa secara instan mengubah segalanya. Puasa mungkin hanya ibarat seember air di padang tandus.