hargailah waktu kita...

Minggu, 30 September 2012

SEJARAH PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
A.  IDENTITAS
Satuan pendidikan                       : Madrasah Aliyah Negeri
Mata pelajaran                             : Sejarah Kebudayaan Islam
Kelas                                              : XII (Duabelas)
Semester                                        : 2(dua)
Pertemuan ke-                              : 2 x 45 menit
B.     STANDAR KOMPETENSI
Memahami Peradaban Islam Di Andalusia
C.    KOMPETENSI DASAR
Menjelaskan Islam Di Andalusia
D.    INDIKATOR
1.      Menjelaskan  sejarah masuknya islam ke Andalusia
2.      Menjelaskan perkembangan politik
3.      Menjelaskan masa keamiran
4.      Menjelaskan masa kekhalifahan
5.      menyebutkan kemajuan intelektual

E.     TUJUAN PEMBELAJARAN
setelah dilakukanya proses pembelajaran diharapkan
1.      Siswa mampu menjelaskan sejarah masuknya islam ke Andalusia
2.      Siswa mampu menjelaskan perkembangan politik
3.      Siswa mampu menjelaskan masa kemahiran
4.      Siswa  mampu menjelaskan masa ke khalifahan
5.      Siswa mampu menyebutkan kemajuan intelektual
F.     MATERI AJAR
ISLAM DI ANDALUSIA
1.      Sejarah masuknya islam ke andalusia
Sebelum islam masuk andalusia, masyarakatnya sedang mengalami perpecahan dibidang politik, wilayah andalusia terpecah kedalam beberapa negara kecil. Disamping itu Raja Ghotic memaksakan kepercayaan monofisit yang dianutnya kepada masyarakat, bahkan orang-orang Yahudi dipaksa untuk dibaptis menurut agama kristen. Bagi yang tidak tersedia, akan dipaksa, disiksa dan dibunuh, sehingga rakyatnya menjadi melarat, tertindas dan hak azazi mereka tertekan. Sementara itu terjadi pula konflik antara Raja Roderik, penguasa kerjaan Ghotik di Spanyol dan pengasa kota Toledo, Witiza, karna Raja Roderik memindahkan ibukota kerajaanya dari Seville ke Toledo. Pemindahan ini menggakibatkan penguasa Toledo, Witiza tersingkir. Kakak dari Witiza, Oppas dan anaknya Achila mengungsi ke afrika utara dan bergabung dengan orang islam disana. Hal yang sama juga dirasakan oleh  pangeran Yulian, penguasa wilayah Septah. Pangeran Yulian lari ke Ceuta Afrika Utara dan bergabung pula dengan orang-orang Islam disana.
Dalam proses penaklukan Spanyol ini ada tiga orang pahlawan islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin pasukan kesana. Mereka adalah Tharif Ibn Malik, Thariq Ibn Ziad, Musa Ibn Nusair. Musa Ibn Nusair selaku gubernur Afrika Utara pada waktu itu mengirim Tharif Ibn Malik sebagai mata-mata perintis. Dia menyeberangi selat yang ada yang berada antara Maroko dan Benua Eropa itu dengan satu pasukan perang yang berjumlah 500 orang tentara berkuda. Mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Tharif dalam misinya ini tidak masuk kedaerah pedalaman, dia dan pasukannya hanyamenyusuri pantai saja. Dalam penyerbuan ini tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti dia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan perang yang tidak sedikit jumlahnya.
Keberasilan Tharif Ibn Malik ini dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Ghotic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta keinginan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, mendorongnya untuk mengirim pasukan yang lebih besar ke Spanyol. Karena itu pada tanggal 19 juli 711 M dia mengirim 7000 orang pasukan ke Spanyol di bawah pimpinan Thariq Ibn Ziyad. Mereka berlabuh tidak di pelabuhan yang biasa tetapi mereka berlabuh dipinggir laut dekat kaki gunung yang kemudian gunung tersebut dinamakan Gibraltar (Jabal Thariq). Thariq Ibn Ziyad inilah yang dipandang sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan keberasilannya lebih besar pula.
Kedatangan Thariq Ibn Ziyad ini diketahui oleh Roderik sehingga dia menyiapkan pasukan besar berkekuatan 100.000 orang. Thariq minta bantuan kepada gubernur Musa sehingga Musa mengirim tambahan pasukan sebanyak 5000 orang lagi. Dalam pertempuran pertama di Bakkah Thariq dapat mengalahkan lawannya sedangkan Raja Roderik hilang entah kemana dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota-kota penting seperti: Cordova, Granada dan Toledo(ibu kota kerajaan Ghotic)
Kemenangan Thariq pada serangan pertama itu membuat Musa Ibn Nusair tertarik untuk melibatkan diri kemedan pertempuran. Karena itu dengan pasukan yang besar juni 712 M dia berangkat menyeberangi selat tersebut. Musa berhasil merebut Sidonia, Karmona, Seville dan Merida, serta mengalahkan penguasa Ghotic theodomir di Oriheula kemudian bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya Thariq dan Musa menjelajahi seluruh pelosok negri sehingga berhasil menaklukan Spanyol dan menjadikannya provinsi dari Dinasti Umayyah. 
2.      Perkembangan politik
Islam sebagai kekuatan politik telah memperlihatkan kemampuan yang luar biasa, sehingga dapat menguasai daerah Spanyol walawpun menghadapi rintangan dan halangan dari orang-orang Kristen dan para penguasa Spanyol. Hal ini dapat terlihat pada tahun 719 M orang-orang Kristen mengadakan perlawanan di perbatasan Perancis. Karena itu Gubernur ‘Abdul Aziz melakukan pengamanan diwilayah tersebut dan bahkan sampai ke Tolouse Perancis, akan tetapi Ia tewas terbunuh oleh pasukan Eudo, Bangsawan Aqitane pada tahun 719 M. Dia digantikan oleh Ambasah Ibn Sulaiman, seterusnya Abd al Rahman Ibn ‘Abdillah al Ghafiqiy, ketika Umar Ibn Abdul Aziz menjadi Khalifah Bani Umayyah (717-720) M. Al Ghafiqiy ini berhasil melumpuhkan Eudo di Bordeaux atau Bordesu tahun 732 M lalu terus maju ke kota Poitiers dan dari sini Dia ingin ke kota Ours. Namun gerak lajunya dapat ditahan oleh Charles Martel bahkan al Ghafiqiy sendiri tewas sehingga penyerangan ke Prancis tersebut gagal dan tentara islam kembali ke Spanyol
Semenjak tahun 716-756 M tidak kurang dari 20 orang Gubernur yang memimpin daerah itu. Gubernur pertamanya adlah Abdul ibn aziz putra dari Musa Ibn Nusair sampai gubernur terakhir Yusuf Ibn Abdul Rahman Al Fihry dari suku Qays dan pada masa Al Fihriy inilah Abdul Rahman Al Dhakhil masuk ke Spanyol. Pada masa ini stabilitas politik memang belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih sering terjadi, baik yang datang dari luar maupun dari dalam itu sendiri.
Gangguan yang dari dalam tersebut adalah berupa perselisihan elit antara penguasa, terutama perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di khirawan, yang masing-masingnya merasa berhak untuk menguasai daerah Spanyol.
Sedangkan gangguan yang datang dari luar datang dari sisa-sisa musuh islam di Spanyol yang bertempat tinggal didaerah pergunungan, yang tidak mau tunduk kepada pemerintahan islam. Apabila kekuatan islam sedang lemah, mereka selalu melakukan perlawanan, dan apabila mereka diserang oleh orang islam, mereka lari kedalam wilayah Prancis mencari perlindungan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kontak senjata antara orang islam dengan orang Prancis.  
3.      Masa ke-Amiran
Sewaktu wilayah Spanyol dalam keadaan belum tentram seperti yang disebutkan diatas, datanglah Abdul Rahman al Dakhil. Ia adalah salah seorang keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kerajaan berdarah Abu Abbas Assafah ketika yang terakhir ini mengalahkan Bani Umayyah di Damaskus. Abdul Rahman dapat bersembunyi dan menyamar sebagai pedagang, lau lari ke Plestina kemudian ke Mesir, terus ke Afrika Utara. Akhirnya pada tahun 755 M dia menyeberang ke Spanyol. Sesampai di Spanyol, ia mendekati suku Kalb pimpinan al Bajl Ibn Bisri. Kekuatan suku ini di manfaatkannya untuk merebut kekuasaan dari gubernur Yusuf Ibn Abdul Rahman Al Fihry yang berasal dari suku Qays, musuh bebuyutan suku Kalb. Setelah melalui pertempuran sengit di masrah bulan September 756 M, akhirnya dia dapat mengalahkan gubernur tersebut, sehingga wilayah Spanyol dapat dikuasainya.  Abdul Rahman kemudian menjadikan kota Cordova sebagai pusat pemerintahannya. Sejak saat itu wilayah Spanyol menjadi pusak kekuasaan dinasti bani Umayyah yang bebas dari pemerintahan Abbasyyah di Bagdad
Pada masa ini  Spanyol berada dibawah pemerintahan gubernur yang bergelar dengan Amir, yang mana Amir-amir yang berkuasa pada periode ini adalah:
a.       Abdul Rahman Al Dakhil (138-172) H atau (755-788) M
b.      Abu al Walid Hisyam Ibn Abdul al Rahman (172-180) H atau (788-796) M
c.       Abu Al Ash Al Hakam Ibn Hisyam (180-207) H atau (796-822) M
d.      Abu Al Mutharrif Abdul Al Rahman  Ibn Al Hakam (207-238) H atau (822-852) M
e.       Abu Abdillah Muhammad Ibn Rahman (238-273) H atau (852-886) M
f.       Abu Al Hakam Al Munzdir Ibn Muhammad (273-275) H atau (886-888) M
g.      Abu Muhammad Abdillah Ibn Muhammad (275-300) H atau (888-912) M
h.      Abu Al Mutharrif Abdul Rahman Ibn Abdillah (300-320) H atau (912-932) M
4.      Masa ke-khalifahan
Andalusia – Spanyol diduduki umat Islam pada zaman khalifah Al-Walid Rahimahullah (705-715 M), salah seorang khalifah dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, dimana Ummat Islam sebelumnya telah mengusasi Afrika Utara. Dalam proses penaklukan Spanyol ini terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa yaitu Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair Rahimahullahum ajma’in.
Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.
Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke spanyol sebanyak 7000 orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah.
Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad Rahimahullah. Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq).
Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu). Sebelum Thariq Rahimahullah berhasil menaklukkan kota Toledo, ia meminta tambahan pasukan kepada Musa ibn Nushair Rahimahullah di Afrika Utara. Musa mengirimkan tambahan pasukan sebanyak 5000 personel, sehingga jumlah pasukan Thariq seluruhnya 12.000 orang. Jumlah ini belum sebanding dengan pasukan Gothik yang jauh lebih besar, 100.000 orang.
Kemenangan pertama yang dicapai oleh Thariq ibn Ziyad Rahimahullah membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, Musa ibn Nushair Rahimahullah merasa perlu melibatkan diri dalam gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dengan suatu pasukan yang besar, ia berangkat menyeberangi selat itu, dan satu persatu kota yang dilewatinya dapat ditaklukkannya. Setelah Musa Rahimahullah berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville, dan Merida serta mengalahkan penguasa kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz Rahimahullah tahun 99 H/717 M. Kali ini sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada Al-Samah Rahimahullah, tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman ibn Abdullah al-Ghafiqi Rahimahullah. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordreu, Poiter, dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Akan tetapi, diantara kota Poiter dan Tours itu ia ditahan oleh Charles Martel, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara yang dipimpinnya mundur kembali ke Spanyol.
Sesudah itu, masih juga terdapat penyerangan-penyerangan, seperti ke Avirignon tahun 734 M, ke Lyon tahun 743 M, dan pulau-pulau yang terdapat di Laut Tengah, Majorca, Corsia, Sardinia, Creta, Rhodes, Cyprus dan sebagian dari Sicilia juga jatuh ke tangan Islam di zaman Bani Umayah. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Perancis Tengah dan bagian-bagian penting dari Italia. Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah suatu kondisi yang terdapat di dalam negeri Spanyol sendiri. Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama Kristen. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
Rakyat dibagi-bagi ke dalam sistem kelas, sehingga keadaannya diliputi oleh kemelaratan, ketertindasan, dan ketiadaan persamaan hak. Di dalam situasi seperti itu, kaum tertindas menanti kedatangan juru pembebas, dan juru pembebasnya mereka temukan dari orang Islam. Berkenaan dengan itu Amer Ali, seperti dikutip oleh Imamuddin mengatakan, ketika Afrika (Timur dan Barat) menikmati kenyamanan dalam segi material, kebersamaan, keadilan, dan kesejahteraan, tetangganya di jazirah Spanyol berada dalam keadaan menyedihkan di bawah kekuasaan tangan besi penguasa Visighotic. Di sisi lain, kerajaan berada dalam kemelut yang membawa akibat pada penderitaan masyarakat. Akibat perlakuan yang keji, koloni-koloni Yahudi yang penting menjadi tempat-tempat perlawanan dan pemberontakkan. Perpecahan dalam negeri Spanyol ini banyak membantu keberhasilan campur tangan Islam di tahun 711 M. Perpecahan itu amat banyak coraknya, dan sudah ada jauh sebelum kerajaan Gothic berdiri.
Perpecahan politik memperburuk keadaan ekonomi masyarakat. Ketika Islam masuk ke Spanyol, ekonomi masyarakat dalam keadaan lumpuh. Padahal, sewaktu Spanyol masih berada di bawah pemerintahan Romawi (Byzantine), berkat kesuburan tanahnya, pertanian maju pesat. Demikian juga pertambangan, industri dan perdagangan karena didukung oleh sarana transportasi yang baik. Akan tetapi, setelah Spanyol berada di bawah kekuasaan kerajaan Goth, perekonomian lumpuh dan kesejahteraan masyarakat menurun. Hektaran tanah dibiarkan terlantar tanpa digarap, beberapa pabrik ditutup, dan antara satu daerah dan daerah lain sulit dilalui akibat jalan-jalan tidak mendapat perawatan.
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran kerajaan Ghoth adalah ketika Raja Roderick memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo, diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderick. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum muslimin.
Sementara itu terjadi pula konflik antara Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum Muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol, Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Tariq dan Musa Rahimahumullah.
Hal menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun yang dimaksud dengan faktor internal adalah suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh penguasa, tokon-tokoh pejuang dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu, dan penuh percaya diri. Mereka pun cakap, berani, dan tabah dalam menghadapi setiap persoalan. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

5.      Kemajuan intelektual
a.    Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abdurrahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-976 M), karya-karya ilmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam. Apa yang dilakukan oleh para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Ibn Rusyd dari Cordova. Ia lahir tahun 1126 M dan meninggal tahun 1198 M. Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menafsirkan naskah-naskah Aristoteles dan kehati-hatian dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah al- Mujtahid


b.    Sains
IImu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Famas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata surya dan bintang-bintang. Ahmad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan banyak pemikir terkenal, Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudera Pasai dan Cina. Ibn al-Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat tinggal di Spanyol, yang kemudian pindah ke Afrika. Itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
c.    Fiqih
Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut mazhab Maliki. Yang memperkenalkan mazhab ini di sana adalah Ziad ibn Abdurrahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi pada masa Hisyam Ibn Abdurrahman. Ahli-ahli Fiqh lainnya diantaranya adalah Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir Ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
d.   Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan Ibn Nafi yang dijiluki Zaryab. Setiap kali diselenggarkan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimiliknya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
e.    Bahasa dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan non-Islam. Bahkan, penduduk asli Spanyol menomor duakan bahasa asli mereka. Mereka juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun tata bahasa. Mereka itu antara lain: Ibn Sayyidih, Ibn Malik pengarang Aljiyah, Ibn Khuruf, Ibn al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Ghamathi. Seiring dengan kemajuan bahasa itu, karya-karya sastra bermunculan, seperti Al-’Iqd al-Farid karya Ibn Abd Rabbih, al-Dzakhirahji Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, Kitab al-Qalaid buah karya al-Fath ibn Khaqan, dan banyak lagi yang lain.

G.    STRATEGI/ METODE PEMBELAJARAN
1.      Ceramah
2.      Diskusi
3.      Tanya jawab

H.    KEGIATAN PEMBELAJARAN
1.      Pendahuluan
a.    Guru memberi salam, mengabsen serta mengkondisikan kelas.
b.    Salah seorang siswa memimpin doa
c.    Guru memberikan motivasi tentang pelajaran yang akan diajarkan
d.   Guru menyampaikan tujuan pelajaran tentang sejarah tradisi di nusantara

2.    Kegiatan inti
a.  Eksplorasi
1)   Guru menjelaskan materi tentang sejarah masuknya islam ke Andalusia, Menjelaskan perkembangan politik, Menjelaskan masa keamiran. Menjelaskan masa kekhalifahan, menyebutkan kemajuan intelektual
2)   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang sejarah masuknya islam ke Andalusia, Menjelaskan perkembangan politik, Menjelaskan masa keamiran. Menjelaskan masa kekhalifahan, menyebutkan kemajuan intelektual
3)   Guru menyuruh siswa mencatat hal-hal penting pada meteri pelajaran yang sedang dibahas
b. Elaborasi
1)   Guru membagi siswa kepada beberapa kelompok dan tiap-tiap kelompok disuruh mendiskusikan tentang materi yang sedang dibahas yang berkaitan Sejarah islam di Andalusia
2)   Pada setiap kelompok disuruh mempresentasian hasil diskusinya didepan kelas

c.  Konfirmasi
1)   Guru memberikan evaluasi terhadap materi Sejarah islam di Andalusia
2)   Guru menegaskan kembali materi Sejarah islam di Andalusia

3. Penutup
a.  Guru menyimpulkan pembelajaran
b.  Guru memberikan tugas berupa pekerjaan rumah (PR)
c.  Guru menutup pembelajaran dan menyampaikan salam

I.       SUMBER BELAJAR
1.      Buku Sejarah kebudayaan islam Madrasah Aliyah Negeri kelas XII
2.      Buku Sejarah Kebudayaan Islam Yang Mendukung pembahasan

J.      PENILAIAN
1.      Bentuk penilaian         : Tulisan
2.      Intrumen penilaian      : Essay
Soal          :
1.      Jelaskan sebutkan amir-amir yang ada pada masa islam di andalusia?
2.      Sebutkan kemajuan-kemajuan apa saja yang terdapat dalam islam di Andalusia ini?



Batusangkar, 07 Mai 2012
Mengetahui
Kepala Sekolah



                                             
Nip:...................................
Guru Mata Pelajaran



Zainal Masri
09101028





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar